widgeo.net

SUKA MEMBERI ATAU SUKA MENERIMA?

"Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." 2 Korintus 9:6

Memiliki kasih dan suka memberi adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Jika ada orang Kristen yang tidak punya kasih, pelit dan tidak suka memberi berarti belum melakukan kehendak Tuhan, padahal firmanNya jelas menyatakan, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38)
Orang Kristen yang tidak punya kasih dan tidak pernah memberi kepada orang lain tak ada bedanya dengan keberadaan Laut Mati. Laut Mati adalah danau atau laut yang airnya tidak dapat diminum karena telah terkontaminasi dan berbau busuk. Kandungan garam di Laut Mati sangat tinggi dan bisa dikatakan bahwa Laut Mati adalah salah satu lingkungan yang paling tidak ramah di dunia. Ikan-ikan tidak dapat bertahan hidup di sana. Secara geografis Laut Mati dialiri oleh sungai Yordan yang bermuara ke laut ini, namun tidak seperti danau lain, Laut Mati tidak memiliki saluran ke luar; laut ini hanya terus menampung air sungai sehingga semua air segar yang mengalir ke dalamnhya lambat laun menjadi busuk.
 
Itulah gambaran yang tepat mengenai orang yang hidup mementingkan diri sendiri; orang yang selalu mengharapkan untuk diberi tetapi tidak suka memberi. Bila kita hanya suka menerima, selalu mengambil tetapi tidak pernah memberi, lama-kelamaan kehidupan kita akan berbau busuk: masam, egois, tidak menyenangkan dan selalu berpikiran negatif terhadap orang lain. Itu adalah dampak dari tidak adanya hal yang mengalir keluar dari dirinya. Dunia berprinsip bahwa untuk menjadi kaya atau cara memperoleh harta adalah dengan menghemat sedemikian rupa dan menerima. Sedangkan prinsip firman Tuhan adalah kebalikannya. Di dalam Kerajaan Allah justru orang yang diberkati adalah orang yang menyebar dan menabur hartanya. Tertulis: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24) dan "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6).

Tuhan menciptakan kita untuk menjadi seperti sungai yang terus-menerus mengalir. Janji Tuhan itu unik, ia hanya dapat dipahami apabila dipraktekkan.
Tuhan Yesus memberkati Saudara

APAKAH ALKITAB MENGATAKAN SESUATU MENGENAI KEMISKINAN

Untuk menjawab pertanyaan ini kami akan mengatakan, pertama, bahwa jika hukum-hukum Alkitab diikuti, manusia tidak akan miskin. Alkitab mengharuskan manusia itu jujur dan tidak mencuri dari orang lain, bahwa mereka bekerja keras dan tidak malas, bahwa mereka memperlakukan hamba dan orang upahan mereka dengan adil dan baik, bahwa mereka mengasihi orang lain seperti diri mereka sendiri, bahwa yang kaya memakai kekayaannya untuk menolong orang lain, bahwa semua orang memberi bantuan kepada yang memerlukan, bahwa janda dan yatim piatu diperlakukan dengan kebaikan dan kemurahan hati, bahwa para hakim menjalankan hukum dengan sama rata tanpa favoritisme.


Jika hal-hal ini dan hukum-hukum Alkitab lain diikuti, maka tidak akan ada orang yang miskin di bumi. Jika Alkitab ditaati, orang miskin tidak akan ditindas oleh sesamanya. Sebagai contoh, saya baru-baru ini membaca tentang orang-orang di suatu distrik di Nepal yang banyak mati karena disentri. Bukannya mengasihani orang-orang ini dan menolong mereka, para praktisi medis mengambil keuntungan dari mereka dan menagih harga yang luar biasa tinggi untuk mengobati mereka, sehingga sebagian harus menjual tanah dan ternak mereka dan menjadi miskin papa.

Pemerintahnya seolah-olah memberikan banyak uang untuk menolong orang-orang sakit, tetapi banyak dari uang itu diambil dalam perjalanan oleh orang-orang yang rakus. Para politikus lebih banyak menghabiskan uang terbang ke sana ke mari di atas helikopter untuk difoto oleh media daripada memberikan bantuan kepada yang memerlukan. Hal-hal seperti ini tidak akan terjadi jika hukum Allah diikuti, dan dunia akan menjadi tempat yang berbeda.


Kedua, Alkitab mendukung hak untuk memiliki properti pribadi. Dua dari hukum Allah adalah “jangan mencuri” (Kel. 20:15) dan “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel. 20:17). Jika salah untuk mengingini atau mencuri uang atau milik sesama kita, maka tidaklah salah untuk memiliki milik pribadi. Orang yang punya milik pribadi diharuskan untuk memakainya dengan cara yang saleh dan tidak mengabaikan keperluan sesamanya manusia, tetapi orang yang tidak punya milik pribadi tidak diperbolehkan mengambil apa yang menjadi milik sesamanya hanya karena dia miskin.


Hukum Allah mengatakan bahwa jika seorang miskin mencuri, ia tetap bersalah akan suatu kejahatan dan harus dihukum (Ams. 6:30-31).


Ketiga, ketika Yesus kembali dan mendirikan kerajaanNya, hukum-hukumnya yang adil akan diterapkan dan tidak akan ada lagi yang miskin. Jadi, jika kita sungguh peduli kepada yang miskin kita akan berdoa seperti Yohanes, “

Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).

Mengalami Tuhan tidak harus spektakuler

20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."


Menjadi pengertian dan konsep yang mengakar dalam pikiran orang Timur, bahwa mengalami Tuhan harus secara spektakuler, karena Allah adalah Allah yang spektakuler; yang dahsyat dan luar biasa. Hal ini dipicu oleh konsep agama-agama kafir yang selalu menghubungkan pengalaman mereka dengan Allah mereka yang hampir selalu secara spektakuler, secara khusus melalui ritual atau upacara agama mereka. Untuk hal-hal yang spektakuler yang bisa atau diharapkan terjadi dalam ritual tersebut biasanya harus ada pemimpin atau tokoh agama yang menjadi pemandunya atau mediator antara umat dan dewa atau allah yang disembah. Hal-hal spektakuler menjadi sebuah keharusan untuk dapat terjadi bagi sebagian mereka. Itulah sebabnya tidak sedikit ritual mereka disertai demonstrasi untuk menunjukkan kekuatan Allah mereka.


Konsep kafir ini rupanya “diimport” oleh orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran dalam gereja Tuhan. Itulah sebabnya dalam acara-acara kebaktian di beberapa gereja, diharapkan terjadi mukjizat atau hal-hal yang dahsyat. Sehingga terjadi proses pemaksaan diri untuk mengalami Tuhan. Di sebagian gereja, emosilah yang dipompa sedemikian rupa, seakan-akan mereka mengalami Tuhan. Akhirnya terjadi penipuan atau pemalsuan hadirat Tuhan. Liturgi gereja atau misa dibuat sedemikian rupa agar jemaat sakan-akan merasakan hadirat Tuhan dan bertemu dengan Tuhan. Sejatinya hal ini adalah penipuan terhadap jemaat. Tetapi hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga menjadi irama wajar dan standar. Tidak mungkin dalam suatu kebaktian pemimpin puji-pujian dan pendeta serta jemaat benar-benar bisa mengalami Tuhan kalau memang setiap harinya mereka tidak berurusan dengan Tuhan secara normal dan natural. Normal artinya sebagaimana mestinya, natural artinya tidak dibuat-buat atau wajar saja.



Mengalami Tuhan bukan berarti harus mengalami kejadian-kejadian yang spektakuler. Sebagaimana bila kita berurusan dengan seseorang secara utuh, demikian pula jika kita berurusan secara utuh dengan Tuhan. Secara utuh artinya dalam segala keadaan kita berurusan dengan Tuhan. Baik pada waktu keadaan ekstrim, misalnya masalah berat, juga dalam masalah ringan. Pada waktu suka maupun duka. Pada waktu membutuhkan mukjizat maupun tidak. Dalam hal ini perlu ditambahkan bahwa tidak semua orang yang mengalami mukjizat takut akan Allah. Tetapi orang yang bergaul dengan Tuhan atau mengalami Tuhan setiap hari pasti ia membangun sikap takut akan Allah secara benar.



Alami Tuhan secara normal dan natural, dalam segala keadaan, baik suka maupun duka, itulah hidup bersama Tuhan yang benar.

CURAHAN HATI KEPADA TUHAN

Bacaan : Lukas 21:18
" Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang ".

Suatu ketika ada seseorang yang begitu telah menjalani
hari - hari yang berat dalam hidupnya dan ia pun
menyampaikan curhatnya kepada Tuhan
.

Tuhan, aku ingin tahu ..........
 -> Mengapa Engkau ijinkan hal - hal yang tidak adil terjadi di
di dunia ini ?.
-> Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika di
tampar pipi kiriku ?.
-> Mengapa aku harus selalu mengasihi musuhku ?.
-> Mengapa sepertinya aku harus selalu mengalah walaupun
aku sudah dirugikan dan disakiti ?.
-> Mengapa aku harus bersabar atas banyak hal yang tidak
menyenangkan hatiku ?.
-> Mengapa Engkau ijinkan aku kehilangan dan gagal, namun
tetap harus selalu bersyukur ?.
Tolong Tuhan........Jawablah pertanyaanku ini............Biarkan
aku lebih mengerti, karena aku merasa begitu lelah sekali
menanggung semua derita ini.

Jawaban dari Surga ..........
Anak-Ku terkasih, tidakkah engkau menyadari bahwa mata-Ku
selalu tertuju kepadamu ?.

-> Aku mengetahui saat engkau diperlakukan tidak adil.
-> Aku pun melihat saat air matamu mengalir, menahan
perasaan jengkel yang sudah tidak terucapkan.
-> Aku bahkan ikut merasakan kepedihan hatimu, saat engkau
dikecewakan.
Tapi, tahukah engkau bahwa Aku sangat mengasihimu ?.
Saat Aku melihat engkau memaafkan orang yang menyakitimu,
bukannya membalas perbuatan ..... Melihatmu bersabar atas
sikap jahat yang mereka tujukan kepadamu, membuat-Ku
semakin sangat mengasihimu.
Aku ijinkan semua itu terjadi supaya kamu semakin hari
semakin dimurnikan, dan sempurna menyerupai Aku ..... Dan
pada saatnya nanti, Aku akan menggantikan semuanya,
memberkatimu sesuai dengan kemuliaan yang akan
Kunyatakan kepadamu ..........
Aku akan membukakan bagimu pintu - pintu berkat, dimana
sudah tidak ada seorangpun yang bisa menutupnya lagi .....
Dan Aku akan memberikan kepadamu kesempatan -
kesempatan emas, dimana tak seorangpun yang akan bisa
mengambilnya ..........
Aku telah melihat betapa jahatnya perbuatan - perbuatan
mereka terhadapmu ..... Biarkanlah, karena pembalasan
adalah hak-ku.
Jadi anak-Ku ..... Janganlah engkau berpikir bahwa Aku
mengabaikanmu, karena sesungguhnya Aku senantiasa
menyertaimu ..........
Sebab engkau sangat berharga dimata-Ku ..... Dan tak akan
ada sehelai rambutmu pun jatuh tanpa seizin-Ku.

Tuhan Yesus memberkati.

MANGKUK TIDAK BERALAS

Bacaan : Mazmur 107:1
" Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik !. Bahwasannya
untuk selama - lamanya Kasih setia-Nya ".


Seorang raja bersama pengringnya keluar dari istananya
untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan
dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis
ini, " Apa yang engkau inginkan dariku ? ".
Si pengemis itu tersenyum dan berkata, " Tuanku bertanya,
seakan - akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba ".
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, " Tentu saja aku
dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta,
katakanlah ! ".
 
Maka menjawablah sang pengemis, " Berpikirlah dua kali.
wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa - apa ".
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarangan pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan
tak senang pada diri raja, karena mendapatkan nasehat dari
seorang pengemis. " Sudah aku katakan, aku pasti dapat
memenuhi permintaanmu. Apapun juga !. Aku adalah raja
yang paling berkuasa dan kaya - raya ".
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis
itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, " Tuanku
dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku
inginkan ".

Bukan main !. Raja menjadi geram mendengar ' Tantangan '
pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan kepada
bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi
penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas !.
Kemudian bendahara menunangkan emas dari pundi - pundi
besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang
pengemis. Anehnya, emas dalam pundi - pundi besar itu
tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau
kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus
memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi
mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seleruh perbendaharaan
kerajaan : emas, intan berlian, telah habis dilahap mangkuk
sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh
di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa,
terbata - bata raja bertanya, " Sebelum berlalu dari tempat
ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk
sedekah ini ? ".

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, " Mangkuk itu
terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang
mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya ".
" Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman
yang mengasyikan kala engkau menginginkan sesuatu.
Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu,
semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi
artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas, intan berlian
yang masuk kedalam mangkuk yang tak beralas itu.
Kegembiraan, gairah dan pengalaman yang mengasyikkan
itu hanya takkala dalam proses untuk mendapatkan
keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang
keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu
merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan :
power tends to corrupt ; Kekuasaan cenderung untuk
berlaku tamak ".

Raja itu bertanya lagi, " Adakah cara untuk dapat menutup
alas mangkuk itu ? ".
" Tentu ada, yaitu rasa syukur terhadap segala sesuatu
yang telah engkau miliki. Jika engkau pandai bersyukur.
Itu akan menambah nikmat padamu ". Ucap sang pengemis
itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang !!!.

Tuhan Yesus memberkati.

IKAN DAN AIR

Bacaan : 1 Tesalonika 5:16-18
" Bersukacitalah senantiasa dan berdoa, ucapkanlah syukur
dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di
dalam Kristus Yesus bagi kamu ".


Suatu hari seorang Ayah dan anaknya sedang duduk sambil
berbincang - bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata
kepada anaknya. Lihatlah anakku, air begitu penting dalam
kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan
percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu
mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang
katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu
berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya
kepada setiap ikan yang ditemuinya. Hai tahukah kamu
dimana tempat air berada ?. Aku telah mendengar
percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.
Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui
dimana air itu. Si ikan kecil itu semakin kebingungan. Lalu ia
berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan
sesepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sesepuh
itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, Dimanakah air ?.
Ikan sesepuh itu menjawab dengan bijak. Tak usah gelisah
anakku, air itu telah mengelilingim, sehingga kamu bahkan
tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita
semua pasti akan mati.
 
' Manusia kadang - kadang mengalami situasi yang sama
seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan
dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan
kebahagiaan sedang melingkupinya sampai - sampai ia
sendiri tidak menyadarinya '.

Terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita miliki saat
ini sudah cukup membuat kita bahagia.
Apa sih yang kita cari di kehidupan ini ?. Hidup adalah pilihan.
Jangan juga pernah mengira bahwa orang lain lebih bahagia
dari kita. Karena apa yang kita lihat dari orang lain itu hanya
luarnya saja. Dalamnya ?. Tidak ada yang tahu. Tapi kita
seharusnya lebih mengetahui apa yang ada pada diri kita
dan yang disekitar kita.
" Semoga cerita ini bisa menambah keteguhan Iman kita ! ".

Tuhan Yesus memberkati.

PEDULI KASIH

Bacaan : Yohanes 15:17
" Inilah perintah-Ku kepadamu : Kasihilah seorang akan yang
lainnya.


Hari Minggu yang lalu aku pergi ke sebuah Mall. Di depan
ada seorang anak kecil sedang duduk di tangga. Pakaiaannya
lusuh dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan orang
lain.

Tak seorang pun yang memperhatikannya. Semuanya
bersikap acuh. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Pada hari berikutnya, aku masih mendapati hal serupa.
Anak kecil itu duduk di tangga seorang diri tanpa ada yang
memperdulikannya. Aku mulai menghampirinya, dan terlihat
sangat jelas bahwa dia sangat ketakutan dengan sikapku.
" Hei, kau jangan takut ".
" Anda mau apa mendekati saya ? ".
" Aku hanya mau berkenalan denganmu.
Kau sudah makan ? ". Sambil kusodorkan sebungkus roti.
" Anda baik sekali. Anda tidak takut terhadap saya ? ".
" Kau memang berbeda, punggungmu bengkok, dan aku
yakin tak seorang pun mau mengalaminya termasuk dirimu ".
" Ya begitulah ".
" Tapi kita sama ".
" Sama ? ".
" Ya, kita sama - sama mahluk ciptaan Tuhan dan Tuhan
juga sangat mengasihi aku dan engkau ".

Seringkali, kekurangan seseorang menjadi pembatas kasih.
Banyak orang yang lebih memilih untuk menghindar ketka
bertemu dengan orang - orang yang cacat secara fisik,
ataupun ketika mereka bertemu dengan orang - orang yang
tidak mampu untuk membeli pakaian sehingga pakaiannya
yang dikenakan sangat lusuh.


Kasih itu akan hilang ketika kita melihat perbedaan yang
sangat nyata. Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami
kekurangan dalam hidupnya. Dan perlu kita ketahui bahwa
Tuhan tidak pernah melihat apa yang kita miliki, namun
Tuhan melihat isi hati kita. Tuhan melihat bagaimana cara
kita mengasihi orang lain.


Tuhan Yesus memberkati.

MEMBENCI YESUS

Bacaan : Yohanes 14:15
" Jikalau kamu mengasihi AKU, kamu akan menuruti segala
perintah - perintah-KU "
.

Suatu hari, seorang dosen Teologi memasuki sebuah kelas,
meletakkan sebuah papan Target besar berbentuk lingkaran
dan tak jauh dari sana diletakkan sebuah meja dengan
banyak anak panah di atasnya, serta ada kertas dan
perlengkapan untuk menggambar.

Saat itu, ia berkata kepada mahasiswa/i nya:
" Masing - masing ambilah selembar kertas dan alat gambar,
lalu gambarlah wajah seseorang yang Anda tidak suka, orang
yang selalu membuat marah ". Ada yang menggambar wajah
temannya, ada juga seorang mahasiswa menggambar wajah
ayahnya, ada pula wajah rektor dan dosen - dosen yang
tidak mereka sukai. Masing - masing mahasiswa sudah
menyelesaikan gambarnya.

Secara bergiliran mereka mulai menyematkan hasil gambar
mereka ke papan target, lalu mereka mulai melemparkan
anak - anak panah pada gambar tersebut. Beberapa orang
mahasiswa menunjukkan kebencian sekaligus rasa puas
ketika melemparkan anak panah pada gambar orang yang
dibencinya.

Tak berapa lama, sang Dosen menyuruh mereka untuk
kembali duduk karena waktunya sudah habis. Sang dosen
menurunkan gambar dan juga papan Target dari tembok.
Kini tampak adalah gambar YESUS yang ternyata berada
dibalik papan Target tersebut.

Keheningan memenuhi kelas ketika setiap mahasiswa
memandang gambar Yesus tersebut.
Gambar wajah dan mata-Nya penuh lubang, bahkan ada yang
robek karena hujaman anak - anak panah tadi. Sang dosen
hanya berkata singkat. " Apa yang kamu lakukan terhadap
sesamamu, kamu telah melakukannya terhadap YESUS ".
Puluhan pasang mata mahasiswa menitikkan air mata. Mereka
kini menyadari bahwa dengan membenci sesamanya, mereka
telah melukai hati Yesus.

Kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada
sesama, karena mengasihi sesama merupakan perintah
Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi
Yesus, tetapi kita masih membenci sesama kita.

" Jika saat ini kita masih menyimpan kebencian kepada
seseorang, ingatlah bahwa target kebencian kita adalah
Yesus. Karena apa yang kita lakukan terhadap sesama, kita
juga telah melakukannya terhadap YESUS "


Tuhan Yesus memberkati.

SEPERTI TANGAN DENGAN MATA

Bacaan : Amsal 16:28
" Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan
seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib ".
Dalam kehidupan sehari - hari, mungkin pernah terjadi
pada diri kita atau kita sering mendengarkan percakapan
seseorang bahwa betapa dia merasa sangat kecewa
sekali terhadap sahabat-karibnya yang sudah tega sekali
memfitnahnya hanya karena ingin meraih sesuatu.
Tentu itu bukanlah perbuatan terpuji, karena bisa juga
dibilang bergembira di atas penderitaan orang lain.

Amsal 17:17 mengingatkan kepada kita bahwa :
" Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan
menjadi seorang saudara dalam kesukaran ".


Inti dari sebuah persahabatan adalah ketika Anda dan
sahabatmu itu bisa menjadi seperti tangan dengan mata.
Ketika tangan terluka mata menangis, dan ketika mata
menangis tanganlah yang menghapus air matanya.
Ikatlah persahabatanmu yang sudah terjalin itu dengan
tali kasih.

Karena hanya dengan " KASIH ", Anda akan dapat
mengalahkan rasa Ego dalam diri kita sendiri.

Tuhan Yesus memberkati.

Mengapa Harus Berjemaat/Gereja

Jika gereja disebut sebagai tempat terbaik di dunia, komunitas yang paling istimewa dan paling indah dunia, sebab gereja / jemaat dilukiskan sedemikian penting oleh Alkitab.
Alkitab menyebut gereja sebagai “pengantin Kristus” (Yoh 3:29; Why 19:6-9), “keluarga Allah” (Ef 2:19), “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15), dan “Tubuh Kristus” (1 Kor 12:27; Ef. 1:23). Adakah lembaga dan institusi yang lukiskan sedemikian penting seperti gereja lokal? Tidak ada!

Itu sebabnya sungguh bodoh dan konyol jika ada orang yang berkata bahwa bergereja itu tidak terlalu penting. Seseorang tidak mungkin mengasihi Tuhan Yesus kalau ia tidak mengasihi apa yang DIA kasihi (Efesus 5:25-27).
 
Apa saja alasan-alasan yang mendasari orang-orang percaya melakukan aktifitas berjemaat?

1. Sebuah gereja didirikan Tuhan untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Sama seperti sebuah pemerintahan yang mempercayakan keamanan negara kepada institusi kepolisian dan pertahanan, gereja mendapatkan mandat khusus dari Tuhan untuk menjadi agen kebenaran dan agen pembaharuan. Tuhan memilih gereja untuk melaksanakan rencana-rencana-Nya bagi dunia.
Sebelum Tuhan menunjuk gereja, Tuhan menunjuk Bangsa Israel sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran di dunia ini (1 Tim. 3:15). Sangat disayangkan, Bangsa Israel gagal dan akhirnya Tuhan mendirikan gereja dan mempercayakan tugas besar ini kepada gereja lokal.
Dr. Tonny Evans berkata, “jika kita menginginkan sebuah negara yang baik, kita harus memiliki masyarakat yang baik. Jika kita menginginkan masyarakat yang baik, kita harus memiliki gereja-gereja lokal yang baik – alkitabiah.”
Eropa pernah memasuki masa keemasan ketika gereja melakukan tugasnya dengan benar. Pada abad 19-20, Amerika Serikat mencapai kejayaannya ketika gereja-gereja tetap menjaga kemurniannya sebagai tubuh Kristus. Sebaliknya, ketika gereja-gereja gagal melaksanakan tugasnya, maka kita akan menyaksikan apatisme, anarkisme, imoralitas dan atheisme merajalela.
oleh sebab itu, kebutuhan utama dunia dewasa ini adalah gereja-gereja lokal yang alkitabiah, gereja yang berdiri teguh di atas kebenaran Alkitab, dan gereja yang berani menyuarakan kebenaran tanpa kompromi.

2. Sebuah gereja / jemaat lokal menunjukkan bahwa Anda adalah orang percaya.
Gereja (kuriakon) berati milik Tuhan, dan milik Tuhan itu adalah orang-orang yang telah bertobat dan percaya (Roma 1:6; 7:6;1 Kor 3:23; 6:19-20). Jemaat (ekklesia) sebuah kumpulan orang-yang yang percaya kepada Kristus. Keanggotaan gereja menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Apakah kita milik dunia atau milik Tuhan. Tuhan membangun Jemaat Lokal agar orang-orang yang diselamatkan bersatu menjalin hubungan rohani yang special dan menjalankan agenda Tuhan untuk dunia ini.

3. Sebuah gereja / jemaat lokal mengeluarkan kita dari keterasingan yang mementingkan diri sendiri (Gal 6:1-2; Ibr 10:24-25).
Gereja ada agar orang-orang percaya hidup dalam persekutuan sejati. Persekutuan sejati bukan sekedar berjabat tangan, menepuk bahu, senyuman yang ramah dan sambutan hangat seseorang. Persekutuan sejati lebih dari hal-hal di atas. Persekutuan sejati adalah suatu wujud kasih yang murni, yang berhasil menangani dan mengatasi berbagai permasalahan yang cenderung memecah-belah umat Tuhan.
Secara praktis, persekutuan artinya mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, memberi dengan berkorban, dan menghibur dengan penuh simpati. Intinya adalah menjalani kehidupan bersama-sama.
Keanggotaan menyediakan sebuah keluarga rohani untuk membantu dan mendorong mereka dalam hidup dengan Kristus. Gereja Lokal merupakan ruang kelas untuk belajar bagaimana bergaul dengan baik di dalam keluarga Allah. Gereja merupakan laboratorium untuk menerapkan kasih yang penuh perhatian dan tidak mementingkan diri sendiri.
Sebagai anggota yang aktif kita belajar untuk memperhatikan orang lain dan ikut merasakan pengalaman orang lain. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:26).

4. Sebuah keluarga gereja / jemaat lokal membantu Kita mengembangkan kekuatan rohani.
Anda tidak akan pernah bertumbuh menuju kedewasaan rohani hanya dengan menghadiri kebaktian dan menjadi penonton yang pasif. Hanya keikutsertaan dalam kehidupan penuh dari gereja lokallah yang akan membangun otot-otot rohani.
Kita diperintahkan untuk mengasihi seorang akan yang lain (Rm. 12:10; 1Pet. 1:22), saling mendoakan (Yak. 5:12), saling menguatkan, saling menasehati (Ibr. 10:24-25), memberi salam seorang kepada yang lain, layanilah seoarang akan yang lain, mengajar seorang akan yang lain, saling menerima, saling hormat (Roma 12:10), bertolong-tolongan menanggung beban (Gal. 6:2), saling mengampuni (Ef.4:32), rendahkan diri seorang kepada yang lain, dan banyak tugas bersama lainnya. Inilah keanggotaan manurut Alkitab.
Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan. Kita tidak hanya membutuhkan Alkitab untuk bertumbuh; kita memerlukan orang-orang percaya lainnya (Amsal 27:17).

5. Sebuah keluarga gereja / jemaat lokal akan membantu menjaga Kita dari kemunduran.
Alkitab berkata dalam Ibrani 3:13 “ Tetapi nasehatilah seorang akan yang lain taip hari…. Supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” Jika kita mengetahui seseorang sedang menyimpang secara rohani, sekarang menjadi tanggung jawab kita untuk pergi kepada mereka dan membawa mereka kembali ke dalam persekutuan. Yakobus 5:19-20.
Manfaat lain dari gereja lokal adalah bahwa gereja lokal tersebut juga menyediakan perlindungan dari pimimpin – pemimpin rohani. Allah memberi para Gembalah tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, dan memperhatikan kesejaterahan rohani dari kawanan domba-Nya. “sebab mereka selalu memperhatikan jiwamu, dan mereka harus bertanggung jawab kepada Allah, Ibrani 23:17.
Tuhan Yesus Memberkati..

Sumber:
John Stott, Gereja yang hidup (bpk gunung mulia)
Dr. Darrell W. Robinson, Total church life (LLB)
Rick Warren, The porpuse driven church (GM)
Johsua Harris, Stop dating the church (gloria

Arti kata menghakimi

Mungkin sudah sering mendengar perkataan ini, “jangan menghakimi orang lain” ketika mencoba menjelaskan kekeliruan dan penyimpangan yang sedang terjadi di berbagai gereja sekarang ini. Apa reaksi kita ketika mendengarkan perkataan itu? Mungkin ada yang langsung teringat perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 7:1-2, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Untuk menjawab keraguan atau ketidaktahuan tentang “jangan menghakimi orang lain” kita perlu menyelidiki firman Allah sebagai dasar dan fondasi pengetahuan kita. Kita tidak bisa menerima begitu saja perkataan atau teguran orang lain dengan berkata, “jangan menghakimi orang lain.” Sangat dibutuhkan pembelajaran firman Allah dalam hal ini.

ARTI KATA “MENGHAKIMI” 

Pertama-tama, perlu diketahui apa arti kata “menghakimi.” Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisinya sebagai “mengadili” atau “berlaku sebagai hakim.” Lalu apa itu “hakim”? Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memberikan pengertian sebagai, (1) “orang yang mengadili perkara,” (2) “pengadilan” dan (3) “juri”, “penilai.” Namun juga diberikan pengertian lain sebagai “orang pandai, budiman dan ahli; orang yang bijak.”

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa “menghakimi” adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim” dimana berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim maka tak seorangpun yang memiliki wewenang untuk menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Jika demikian, maka hidup manusia itu akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya masing-masing, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25).

TUGAS SEORANG HAMBA TUHAN 

Ada dua penjelasan penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pembahasan ini. Yang pertama, orang Kristen atau gereja takut dilabel sebagai “menghakimi orang lain.” Jika rasa takut ini dibiarkan dengan tanpa memiliki dasar yang benar, akan berdampak buruk pada gereja karena gereja tidak bisa memberitahukan atau menjelaskan mana yang benar dan salah. Jika demikian, siapa yang patut diikuti dan diteladani? Sebagai akibat ketakutan ini akan sangat besar terhadap gereaj karena secara tidak langsung hal ini memberitahukan bahwa gereja tidak perlu memiliki pengajar atau hamba-hamba Tuhan karena tugas utama mereka adalah memberitahukan mana yang benar dan salah melalui pengajaran, khotbah dan penggembalaan jemaat agar mereka mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah. Jika para hamba Tuhan yang mengajar dan berkhotbah dianggap menghakimi ketika mengatakan hal yang benar, lalu siapakah yang pantas jadi pengajar dan pengkhotbah?

Sekedar diketahui tiap-tiap orang di dunia ini akan selalu bertindak sebagai “hakim” dalam hidupnya. Jika seseorang tidak bisa menghakimi atau tidak mampu memberitahukan apa yang benar dan salah maka ia seorang yang plin-plan, dan tidak berpendirian. Ia tidak pantas menjadi seorang pemimpin karena ia tidak bisa mengambil keputusan bijaksana. Orang yang tidak bisa mengambil keputusan atau menentukan suatu keputusan akan susah dalam hidup dan dalam membangun keluarganya karena ia tidak bisa menentukan apa yang terbaik untuk hidupnya.

Kedua, jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain. Seorang hamba Tuhan harus mengajarkan yang benar dan memperingatkan hal-hal yang buruk. Tugas seorang pengkhotbah sama seperti seorang ayah dalam sebuah rumah tangga. Sang ayah wajib memberitahu anak-anaknya apa yang baik dan benar, tetapi mengingatkan mereka hal-hal buruk yang tidak bisa dilakukan agar bisa dihindari dan dijauhkan. Akan sangat buruk bagi anak-anaknya jika seorang ayah hanya memberitahukan hal-hal benar saja tanpa memberitahukan hal-hal buruk yang harus dihindari. Oleh karena itu seorang ayah yang baik tidak akan henti-hentinya memberitahu anak-anaknya siapa yang bisa diikuti dan dijadikan sebagai teman, serta siapa yang harus dijauhi karena kelakuan buruk dan kejahatannya. Itulah tugas seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya.

Apakah dalam hal ini sang ayah menjadi seorang ayah yang jahat dan berdosa karena telah menghakimi orang lain dengan memberitahu anak-anaknya siapa orang-orang jahat dan hal-hal buruk yang dilakukan? Bisa dipastikan, semua ayah di dunia ini akan berpikir bahwa ia tidak berdosa dan bersalah serta tidak menghakimi orang lain ketika ia mengajar anak-anaknya. Tindakan itu baik bagi sang ayah dan sangat baik bagi anak-anaknya. Begitu juga dengan para hamba-hamba Tuhan yang menjadi pengkhotbah, pengajar dan gembala sidang dalam sebuah gereja. Adalah tugas mereka mengingatkan jemaatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk, keliru dan kesesatan yang dilakukan orang atau gereja lain, dan mengajarkan apa yang benar. Jika seorang hamba Tuhan tidak melakukan hal itu, ia tidak pantas menjadi hamba Tuhan, gembala sidang, pemimpin, pengajar dan pengkhotbah.

Mari pertimbangkan contoh lain demi memperjelas topik ini. Seandainya seorang jemaat bertanya kepada pendetanya, “apa benar Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan masuk ke sorga?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin sang pendeta tidak berpikir panjang dan dengan mudah bisa menjawab dan berkata, Ya, itu betul. Tetapi ketika dilanjutkan dengan pertanyaan lain, “lalu bagaimana dengan mereka yang tidak percaya pada Yesus, apa mereka tersesat dan akan binasa?” Jika pendeta itu takut dilabel sebagai orang yang menghakimi orang lain, maka ia tidak akan menjawab pertanyaan ini dan memilih diam atau menjawab, “saya tidak tahu.” Kenapa demikian, karena jika ia menjawab “Ya” itu berarti ia sudah menghakimi mereka yang tidak percaya.

Bagaimana dengan doktrin-doktrin lain dalam Alkitab? Pendeta yang mengerti tugas, tanggungjawab dan kewajibannya akan memberitahu jawaban semampunya dari setiap pertanyaan jemaatnya. Ketika harus mengatakan apa yang dimengerti dan dipercayai sebagai kebenaran firman Allah, ia tidak pada posisi menghakimi orang lain meskipun pemberitahuan itu menyinggung ajaran dan kepercayaan gereja lain. Apa yang disampaikannya merupakan kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran. Dia wajib mengajarkan kebenaran yang telah diketahuinya.

MENGHAKIMI DALAM KONTEKS MATIUS 7:1-2 

Apa sebenarnya maksud perkataan Yesus ketika berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”? Untuk mengerti maksud pernyataan ini kita perlu melihat konteks ayat ini. Perlu diketahui setiap perkataan itu harus diartikan menurut konteks saat perkataan itu disampaikan pembicara awal. Jangan pernah memberikan arti pada suatu pernyataan keluar dari konteks atau memotong pernyataan itu dari konteksnya. Jika hal ini dilakukan maka tidak akan bisa dimengerti apa maksud perkataan Yesus.

Sebagai contoh, pernahkan mendengar ayat firman Allah yang berbunyi bahwa “Tidak ada Allah?” Ada dua bagian firman Allah yang mencatat pernyataan ini yaitu Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:2. Namun pernyataan itu bisa berarti lain karena pernyataan itu dipotong dari keseluruhan ayat atau perikope atau konteks. Jika diperhatikan kedua ayat tersebut dan dimengerti arty pernyataan itu menurut konteksnya maka artinya akan berbeda. Inilah ayat yang sebenarnya, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1; 53:2). Demikian juga ketika ingin mempelajari ajaran Tuhan Yesus tentang “jangan menghakimi orang lain.” Pernyataan ini jangan dipotong dari konteks dan hanya menekankan pernyataan ini tetapi harus memperhatikan keseluruhan ayat tersebut atau konteks pembicaraan Yesus pada Matius 7:1-5 itu agar tidak memberikan arti lain yang tidak disarankan konteksnya.

Untuk memperjelas topik ini, mungkin akan sangat baik mengutip ayat ini kembali, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2). Jika dicermati dengan seksama kedua ayat ini, sangat jelas bahwa kita diajarkan harus menghakimi tetapi tidak menghakim dengan munafik. Oleh karena itu jika harus menghakimi, jangan dilakukan dengan sembarangan. Ia harus mamastikan dirinya bersih dan tidak munafik dan ia harus menghakimi dalam arti positif dan bukan negatif, jika tidak demikian, “kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan dikurkan kepadamu.” Oleh karena itu, selidikilah setiap pikiran, tindakan dan perkataan agar kita tidak dihakimi. Ini tidak berarti bahwa kita harus sempurna dan tanpa dosa. Jika demikian, tidak ada yang bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya Yesus memberikan suatu ilustrasi memperjelas maksud perkataanNya, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:3-5).

Inti ilustrasi ini mengajarkan bahwa jangan pernah katakan orang lain salah jikalau kamu juga melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang dilakukannya. Itulah sebabnya Yesus memakai kata “munafik” untuk menggambarkan orang-orang sedemikian. Namun jikalau melihat keseluruhan perikope Matius 7:1-5 tersebut, sangat jelas bahwa larangan untuk tidak menghakimi itu hanya berlaku bagi mereka yang munafik. Seseorang yang ingin memberikan penilaian terhadap orang lain, harus terlebih dahulu membersihkan diri atau menyelidiki hati (“mengeluarkan balok dari dalam matanya”) sebelum melakukan penghakiman. Ia harus bersih dan tidak bersalah. Hanya orang yang bersih dan tidak bercacat yang layak menjadi seorang hakim dan memberikan penilaian terhadap orang lain.

Apakah kesimpulan ini memiliki dasar yang kuat? Jawabannya, ya pasti. Jika memang kita tidak bisa menghakimi (memberitahukan kesalahan) orang lain, lalu kenapa Tuhan Yesus menghakimi orang-orang Farisi, Saduki dan Israel lainnya? Bukankah sepatutnya kita meneladani Yesus? Jawabannya adalah karena Yesus tidak munafik. Coba perhatikan kalimat-kalimat yang disampaikan Yesus dalam Matius 23. Yesus mengucapkan delapan kali kata “kutuk” atau “celaka” dalam Alkitab bahasa Indonesia. Perhatikan ayat 13, 14, 15, 23, 25, 27, 29, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” dan ayat 16, “Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta.” Kata “celakahlah” di sini sesungguhnya adalah kata “terkutuk.” Inilah perkataan yang diucapkan Yesus karena Yesus mengetahui bahwa orang-orang tersebut telah melakukan hal-hal yang jahat tetapi Yesus tidak melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Yesus bersih dan tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dituduhkan kepadaNya. Yesus menghakimi karena Yesus tidak munafik dan tidak melakukan hal yang salah. Oleh karena itu orang Kristen dituntut bertindak sedemikian dan memiliki hati yang tidak munafik ketika menghakimi sesuatu atau orang lain.

SIKAP MENGHAKIMI YANG DILAKUKAN PAULUS 

Masih ingatkah apa yang terjadi di gereja Antiokhia ketika Petrus ada di sana saat itu? Ada baiknya kejadian itu dikutip di sini, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuakn mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Galatia 2:11-14).

Jika melihat kejadian di atas, sangat jelas bahwa Paulus di sini bertindak memberikan penilaian terhadap sikap Petrus (Kefas) yang tidak benar dimana karena rasa takut terhadap orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem, Petrus yang tadinya bersedia makan bersama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, namun kemudian menjauhkan diri hanya karena takut terhadap mereka. Melihat hal ini, Paulus bertindak dan memarahi Petrus di hadapan semua jemaat karena sikap dan tidakannya yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan Injil. Paulus di sini menghakimi Petrus dan melakukannya karena ia telah memastikan tidak melakukan hal yang sama. Paulus melakukan hal itu bukan karena ia manusia sempurna tetapi sebagai pemimpin, rasul dan orang percaya, ia harus mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Di sinilah peran saling menasihati ada demi kebaikan dan pertumbuhan iman orang percaya.

Tindakan “menghakimi” yang dilakukan Paulus sepertinya tidak merusak hubungan Paulus dan Petrus. Petrus menyadari tindakannya yang salah dan tidak alkitabiah. Petrus mungkin orang yang sangat bersyukur dengan tindakan Paulus. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah” (Amsal 9:9).

Tindakan Paulus memarahi Petrus tentu sangat menyakitkan apalagi hal itu dilakukan di depan jemaat. Namun Paulus bukan ingin membesar-besarkan masalah atau menjelek-jelekkan Petrus sehingga masalah itu harus dibukakan dihadapan orang banyak. Tetapi Paulus bersikap sedemikian karena Petrus itu telah bersikap salah dan fatal serta melakukan hal itu secara terbuka di depan jemaat. Besar kemungkinan prilaku Petrus itu telah menjadi pergunjingan di kalangan jemaat Antiokhia saat itu. Itulah sebabnya Paulus harus menyelesaikan masalah itu secara terbuka agar tidak ada hal-hal yang simpang siur dan tersembunyi. Masalah yang dilakukan di depan umum harus diselesaikan depan umum.

Setelah kejadian ini Petrus tentu mengingat kembali bagaimana Allah telah memakainya sebagai alat Tuhan dalam membukakan jalan keselamatan bagi orang-orang bukan Yahudi untuk pertama kalinya ketika ia berada di Yope di rumah seorang yang bernama Simon. Di rumah itu, Allah mempersiapkannya untuk memasuki rumah orang bukan Yahudi. Dengan pertolongan dan rencana Allah, akhirnya Petrus masuk ke rumah Kornelius (orang bukan Yahudi) di Kaesarea (Kisah 10). Bagaimana mungkin seorang yang dipakai Allah sebagai alatNya untuk menjangkau dan menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi, namun kemudian menjahuinya hanya karena merasa takut terhadap orang-orang Yahudi Yerusalem? Bagaimana mungkin seseorang yang tadinya memiliki keyakinan besar bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi namun kemudian mengabaikannya? Jadi, adalah hal yang wajar ketika Paulus harus memarahi Petrus atas sikap dan tindakannya.

SIKAP MENGHAKIMI DIBUTUHKAN DALAM PENGINJILAN 

Ketika melakukan penginjilan, sesungguhnya kita juga telah mengambil sikap menghakimi karena kita berkata “siapa yang tidak percaya pada Yesus akan binasa dan tidak memiliki hidup kekal.” Namun ini merupakan penghakiman yang memiliki arti positif. Dengan kesimpulan ini, Roh Kudus menggerakkan hati orang-orang percaya untuk mempergunakan kesempatan dalam memberitakan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Roh Kudus juga memberikan beban kepada orang-orang tertentu untuk mempersembahkan hidupnya dalam tugas penginjilan. Namun di sisi lain, Tuhan memberikan beban kepadaorang tertentu untuk menyelamatkan mereka yang bingung dan bimbang karena ajaran sesat yang telah menyelinap masuk ke dalam gereja. Beban seperti inilah yang dimiliki Yudas ketika menuliskan surat Yudas.

Ketika ingin menuliskan suratnya, sesungguhnya Yudas ingin menuliskan tentang hal kesalamatan tetapi Roh Kudus mendorongnya untuk menuliskan hal yang beda yaitu tentang perjuangan mempertahankan iman. Yudas berkata, “Saudara-saudara yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihatkan kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3). Yudas terdorong menasihatkan penerima suratnya agar tetap berjuang mempertahankan iman.

“Menasihatikan” merupakan suatu tindakan memberikan arahan dan petunjuk apa yang harus dilakukan, apa yang baik dan apa yang harus dituruti dan apa yang harus dihindari. Dalam konteks surat Yudas di atas, “menasihatkan” yang dimaksud Yudas adalah memberitahukan kepada mereka apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu yaitu adanya pengajar sesat yang menyelinap masuk ke dalam gereja bahkan menjadi bagian dari gereja. Yudas melanjutkannya dalam ayat berikutnya, “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus” (Yudas 4).

Karena pengajar sesat yang menyelusup masuk dalam gereja, Yudas dengan tegas mengingatkan dan menasihatkan penerima suratnya untuk tetap memperjuangkan iman yang telah dimiliki mereka. Bahkan lebih daripada itu, Yudas mengajarkan agar mereka juga menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang sudah terpengaruh pengajaran sesat dan berusaha untuk menyelamatkan mereka seperti merampas mereka dari api. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa” (Yudas 17-24).

Melihat apa yang disampaikan Yudas dalam ayat-ayat di atas, jelas menunjukkan bahwa Yudas mengambil sikap menghakimi dalam melihat dan menilai apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu. Yudas mengatakan bahwa para pengajara sesat telah menyelinap dalam gereja dan mempengaruhi banyak orang agar menyimpang dari iman. Yudas begitu tegas mengatakan bahwa akan banyak pengajar-pengajar sesat dan pengejek-pengejek menjelang akhir zaman. Oleh karena itu, orang-orang Kristen harus membangun imannya dan bangkit melawan pengajar sesat dengan cara menolong dan menyelamatkan orang-orang yang ada dalam gereja yaitu menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu.

Jika kita dilarang menghakimi, seharusnya Yudas juga tidak bisa memberikan penilaian terhadap keadaan gereja dan orang-orang yang ada di dalamnya serta perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tertentu dalam gereja. Coba bayangkan jika seorang hamba Tuhan tidak diperbolehkan memberikan penilaian atau mengatakan sesuatu itu salah karena rasa takut di label “menghakimi orang lain” maka gereja dan kekristenan akan hancur dan siapapun dalam gereja akan bisa melakukan apa saja yang dirasa baik dan benar. Tetapi karena para hamba Tuhan dipanggil untuk mengajar, menasihati, menegor dan menggembalakan jemaat maka adalah tugas dan tanggungjawab mereka untuk mengarahkan dan mengajar jemaat sesuai dengan apa yang Firman Allah ajarkan. Di sisi lain, mereka juga memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menegur mereka yang sesat, menyimpang dan keliru. Sikap ini harus dilakukan agar bisa menuntun, mengajar dan membimbing mereka yang tersesat agar mereka kembali pada kebenaran. Sikap menghakimi dibutuhkan agar bisa menginjil mereka yang tersesat dan yang tidak mengenal Kristus.
 
MENGHAKIMI ORANG-ORANG SESAT DAN PELAKU DOSA 

Ketika mempelajari firman Allah dengan serius dan teliti, maka bisa menemukan berbagai kejadian dimana Alkitab mencatat para hamba Tuhan menghakimi orang-orang sesat dan pelaku dosa. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di Perjanjian Baru tetapi juga di Perjanjian Lama. Hal ini menunjukkan bahwa “menghakimi” merupakan suatu tugas yang tidak bisa terpisahkan dari komunitas umat Allah.

Dalam Pelayanan Yohanes Pembaptis

Salah satu contoh yang menonjol dalam Perjanjian Baru adalah pelayanan Yohanes Pembaptis. Coba perhatikan perkataan Yohanes Pembaptis ini, “Tetapi waktu ia melihat banyak oran Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:7-8). Yohanes pembaptis tidak merasa takut untuk menyebut orang-orang Farisi dan Saduki sebagai keturunan ular beludak. Ucapan ini disampaikan karena mereka pelaku dosa yang licik dan suka memperdaya orang-orang lemah demi keuntungan sendiri. Yohanes Pembaptis tidak segan-segan mengucapkan perkataan tersebut dihadapan orang-orang Farisi dan Saduki.

Yohanes Pembaptis memiliki keberanian luar biasa dalam menegakkan kebenaran dan menegor orang-orang yang melakukan dosa. Ia tidak memperdulikan status orang dalam memberikan teguran sekalipun ia seorang raja (Yohanes 14:1-12). Keberanian inilah yang tidak dimiliki banyak hamba-hamba Tuhan di masa gereja sekarang ini. Namun sebagai hamba Tuhan, Yohanes hanya memiliki satu tujuan yaitu menyenangkan Tuhannya sama seperti Paulus dalam pelayanannya seperti Paulus katakana, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Galatia 1:10). Menghakimi merupakan bagian dari pelayanan seorang hamba Tuhan.

Dalam ajaran Yesus 

Ada suatu perintah yang disampaikan Yesus untuk dilakukan umat Tuhan ketika melihat seorang percaya berbuat dosa. Suatu petunjuk dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani masalah yang sedang terjadi tertuang dalam Matius 18:15-18.

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikan soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 18:15-18).

Perikope di atas mungkikn bukanlah ayat-ayat yang umum dibicarakan gereja dan orang Kristen karena ayat-ayat itu sendiri memberikan suatu prosedur disiplin gereja ketika ada jemaat melakukan dosa. Karena tindakan itu kelihatan seperti membongkar dosa orang dan akhirnya mengucilkan pelaku dosa yang tidak bertobat, disiplin gereja seperti ini sering diabaikan masa sekarang, bahkan banyak gereja tidak memperdulikan prosedur disiplin ini lagi. Berbeda dengan gereja masa dulu dimana semua denominasi menekankan disiplin ini demi kebaikan dan pertobatan pelaku dosa tersebut. Namun masa modern sekarang, gereja mengabaikannya karena dianggap tindakan itu justru mengurangi jumlah keanggotaan gereja. Hal ini terjadi karena orang yang dikenakan disiplin gereja sering meninggalkan gereja asalnya dan bergabung dengan gereja lain. Namun demikian, apapun yang dilakukan gereja sekarang ini tidak berarti apa yang dicatat dalam Alkitab itu tidak benar. Justru sebaliknya, gerejalah yang mengabaikan ajaran firman Allah dan hanya menekankan ajaran tertentu demi keuntungan dan motif gereja tersebut.

Matius 18:15-20 ini sangat penting tetapi sering diabaikan gereja. Namun demikian ketika ajaran ini ditegakkan dalam gereja, itu berarti gereja telah mengambil sikap menghakimi pelaku dosa tersebut. Jika tidak demikian, tak seorangpun yang bisa mengatakan atau menilai orang lain telah melakukan dosa atau menjadi pelaku dosa dan harus menerima disiplin gereja. Jika tidak demikian bagaimana mungkin bisa mengatakan orang lain pelaku dosa atau pengajar sesat jika tidak menghakimi tindakan dan perbuatannya sesuai dengan terang firman Allah.

Menghakimi adalah menentukan sesuatu atau orang itu salah atau benar dalam terang firman Allah. Namun jika mengatakan orang lain salah dan sesat, kita harus memastikan diri tidak munafik atau tidak menghakimi dalam arti negatif, karena jika jika bersikap demikian, kita juga akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Selidikilah diri sendiri di hadapan Allah agar pantas menjadi seorang hakim bagi diri sendiri dan bagi orang lain di sekitarnya dan bagi gereja tempat pelayanan.

Jadi ayat firman Allah yang berbunyi, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” bukan berarti umat percaya tidak bisa menghakimi orang lain, tetapi sebaliknya umat percaya diperintahkan untuk menghakimi dengan benar dan tidak munafik demi kebaikan orang-orang disekitarnya dan gereja. Kesimpulan inilah yang dinyatakan konteks Matius 7:1-5.

BERSERAH

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37)

Setiap dari kita merindukan hidup yang penuh dengan kemenangan atau berkemenangan.
Tetapi perlu kita ingat bahwa hidup berkemenangan tidak berarti selalu berhasil atau memperoleh apa yang kita ingin secara materi, tetapi lebih bersifat batiniah yaitu mensyukuri apa yang terjadi atas hidup kita, dan memperoleh kekuatan untuk mengatasi dengan pertolongan Tuhan apabila terjadi masalah.

Hidup ini seringkali digambarkan seperti berada di medan perang, peperangan kita bukanlah sekedar peperangan batin, yang rapat-rapat tersembunyi di dalam hati atau cuma bergejolak dalam pikiran.
Peperangan kita adalah peperangan yang nyata, yang kelihatan, karena itu, kemenangan kita juga mesti kelihatan ke luar.

Kemenangan itu harus dibuktikan, ketika kita ditindas, namun tidak terjepit, ketika habis akal, kita tidak putus asa, ketika dianiaya, tidak merasa ditinggalkan sendiri, ketika dihempaskan, tidak binasa.
Kalau ibarat film, barangkali yang cocok adalah film "Die Hard", sulit ditaklukkan.
Demikianlah seharusnya kita sebagai orang percaya, tidak mudah menyerah, tidak cengeng, namun kemenangan kita atau daya tahan kita adalah kemenangan bersama Kristus, karena Kristus dan di dalam Kristus.

Hidup yang mesti kita kejar bukanlah sekedar asal eksis, sekedar asal bernafas, sekedar asal besar, sekedar asal melambung tinggi, sekedar berwarna-warni mengesankan, dan untuk itu orang bersedia menukarkan dengan apa saja termasuk menjual hati, nurani dan imannya.

Yesus memberi teladan yang sama sekali lain, prinsipnya adalah hidup yang bermakna dan berguna ketimbang sekedar hidup tanpa makna, berkorban, kalau perlu, pantang lari menghadapi tantangan.
Hidup berkemenangan adalah hidup yang berserah diri secara total kepada Tuhan, bermegah dalam kesengsaraan karena berpengharapan akan menerima kemulian Allah.

Roma 5:3-5
"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."

Selamat berserah diri secara total kepada Tuhan para sahabat.., TUHAN YESUS memberkati

Membutuhkan Banyak Biaya

mendengar banyak keluhan tentang masalah keuangan, dimana banyak orang merasa tidak cukup dengan uang yang mereka miliki karena adanya kebutuhan yang sangat besar. Salah satunya adalah seorang pekerja yang mengaku membutuhkan banyak uang untuk merenovasi rumah dan biaya sekolah anak-anaknya.

Setiap hari dia nyaris tak bisa tidur dengan tenang karena selalu memikirkan bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan uang yang lebih banyak. Dia selalu mengeluh ketika melihat nominal pada tabungannya tak kunjung bertambah. Dia telah putus asa.

Ketahulilah bahwa Tuhan Yesus tidak menyukai orang-orang yang di dalam hidupnya hanya penuh dengan keluhan. Tuhan ingin semua orang selalu mengucap syukur meskipun sedang berada dalam kekurangan. Tuhan ingin orang-orang selalu memuji akan kebesaran-Nya walau sedang berada dalam persoalan berat.

Di dalam ucapan syukur dan pengaharapan kepada Tuhan Yesus ada mujizat besar. Sama ketika Tuhan Yesus mengucap syukur dengan 5 roti dan 2 ikan saat hendak memberi makan 5000 orang. Apa yang terjadi? Tak ada satu orangpun yang masih kelaparan dan bahkan terdapat sisa hingga 7 bakul.

Itulah juga akan Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Tuhan akan mencukupkan semua kebutuhan kita dan akan memberikan lebih dari apa yang kita pikirkan. Tuhan Yesus itu ajaib dan Dia tidak akan membiarkan kita hidup dalam kekurangan.

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.”

Yohanes 6:11-12

Menjaga Pemberian

Ada seorang pria yang bekerja di sebuah toko dan dia mendapat tugas untuk menjaga barang-barang bawaan pengunjung yang berbelanja. Dia sangat berhati-hati dengan tugas yang diberikan oleh atasannya. Tak heran jika banyak pegawai yang kagum kepadanya karena dia mengerjakan tugasnya dengan sangat baik.

Namun ketika berada di rumah, dia menjadi orang yang sangat berbeda. Dia tidak bisa menjaga keluarganya dengan baik. Dia lebih mementingkan dirinya sendiri dan tidak menyayangi anak-istrinya. Karena keadaan keluarga yang buruk, maka istri dan anaknya lebih memilih untuk meninggalkannya seumur hidup.

Mengapa banyak diantara kita yang lebih memilih pujian dari orang lain dengan berpura-pura baik namun memiliki sifat dan sikap yang kasar d dalam rumah tangga? Apakah penyesalan kita dapat mengembalikan orang-orang yang telah tiada? Jagalah keluarga kita dengan baik. Marilah untuk bisa saling mengasihi dan menegur dengan lembah lembut tanpa melukai perasaan mereka, selama kita masih bisa melihat senyum mereka.

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Roma 13:8