widgeo.net

MANGKUK TIDAK BERALAS

Bacaan : Mazmur 107:1
" Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik !. Bahwasannya
untuk selama - lamanya Kasih setia-Nya ".


Seorang raja bersama pengringnya keluar dari istananya
untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan
dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis
ini, " Apa yang engkau inginkan dariku ? ".
Si pengemis itu tersenyum dan berkata, " Tuanku bertanya,
seakan - akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba ".
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, " Tentu saja aku
dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta,
katakanlah ! ".
 
Maka menjawablah sang pengemis, " Berpikirlah dua kali.
wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa - apa ".
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarangan pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan
tak senang pada diri raja, karena mendapatkan nasehat dari
seorang pengemis. " Sudah aku katakan, aku pasti dapat
memenuhi permintaanmu. Apapun juga !. Aku adalah raja
yang paling berkuasa dan kaya - raya ".
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis
itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, " Tuanku
dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku
inginkan ".

Bukan main !. Raja menjadi geram mendengar ' Tantangan '
pengemis di hadapannya. Segera ia memerintahkan kepada
bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi
penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas !.
Kemudian bendahara menunangkan emas dari pundi - pundi
besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang
pengemis. Anehnya, emas dalam pundi - pundi besar itu
tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau
kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus
memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi
mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seleruh perbendaharaan
kerajaan : emas, intan berlian, telah habis dilahap mangkuk
sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh
di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa,
terbata - bata raja bertanya, " Sebelum berlalu dari tempat
ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk
sedekah ini ? ".

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, " Mangkuk itu
terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang
mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya ".
" Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman
yang mengasyikan kala engkau menginginkan sesuatu.
Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu,
semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi
artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas, intan berlian
yang masuk kedalam mangkuk yang tak beralas itu.
Kegembiraan, gairah dan pengalaman yang mengasyikkan
itu hanya takkala dalam proses untuk mendapatkan
keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang
keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu
merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan :
power tends to corrupt ; Kekuasaan cenderung untuk
berlaku tamak ".

Raja itu bertanya lagi, " Adakah cara untuk dapat menutup
alas mangkuk itu ? ".
" Tentu ada, yaitu rasa syukur terhadap segala sesuatu
yang telah engkau miliki. Jika engkau pandai bersyukur.
Itu akan menambah nikmat padamu ". Ucap sang pengemis
itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang !!!.

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentar dengan Santun