Mungkin sudah sering mendengar perkataan ini, “jangan menghakimi
orang lain” ketika mencoba menjelaskan kekeliruan dan penyimpangan yang
sedang terjadi di berbagai gereja sekarang ini. Apa reaksi kita ketika
mendengarkan perkataan itu? Mungkin ada yang langsung teringat perkataan
Tuhan Yesus dalam Matius 7:1-2, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu
tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk
menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk
mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Untuk menjawab keraguan atau ketidaktahuan tentang “jangan menghakimi orang lain” kita perlu menyelidiki firman Allah sebagai dasar dan fondasi pengetahuan kita. Kita tidak bisa menerima begitu saja perkataan atau teguran orang lain dengan berkata, “jangan menghakimi orang lain.” Sangat dibutuhkan pembelajaran firman Allah dalam hal ini.
ARTI KATA “MENGHAKIMI”
Pertama-tama, perlu diketahui apa arti kata “menghakimi.” Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisinya sebagai “mengadili” atau “berlaku sebagai hakim.” Lalu apa itu “hakim”? Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memberikan pengertian sebagai, (1) “orang yang mengadili perkara,” (2) “pengadilan” dan (3) “juri”, “penilai.” Namun juga diberikan pengertian lain sebagai “orang pandai, budiman dan ahli; orang yang bijak.”
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa “menghakimi” adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim” dimana berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim maka tak seorangpun yang memiliki wewenang untuk menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Jika demikian, maka hidup manusia itu akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya masing-masing, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25).
TUGAS SEORANG HAMBA TUHAN
Ada dua penjelasan penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pembahasan ini. Yang pertama, orang Kristen atau gereja takut dilabel sebagai “menghakimi orang lain.” Jika rasa takut ini dibiarkan dengan tanpa memiliki dasar yang benar, akan berdampak buruk pada gereja karena gereja tidak bisa memberitahukan atau menjelaskan mana yang benar dan salah. Jika demikian, siapa yang patut diikuti dan diteladani? Sebagai akibat ketakutan ini akan sangat besar terhadap gereaj karena secara tidak langsung hal ini memberitahukan bahwa gereja tidak perlu memiliki pengajar atau hamba-hamba Tuhan karena tugas utama mereka adalah memberitahukan mana yang benar dan salah melalui pengajaran, khotbah dan penggembalaan jemaat agar mereka mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah. Jika para hamba Tuhan yang mengajar dan berkhotbah dianggap menghakimi ketika mengatakan hal yang benar, lalu siapakah yang pantas jadi pengajar dan pengkhotbah?
Sekedar diketahui tiap-tiap orang di dunia ini akan selalu bertindak sebagai “hakim” dalam hidupnya. Jika seseorang tidak bisa menghakimi atau tidak mampu memberitahukan apa yang benar dan salah maka ia seorang yang plin-plan, dan tidak berpendirian. Ia tidak pantas menjadi seorang pemimpin karena ia tidak bisa mengambil keputusan bijaksana. Orang yang tidak bisa mengambil keputusan atau menentukan suatu keputusan akan susah dalam hidup dan dalam membangun keluarganya karena ia tidak bisa menentukan apa yang terbaik untuk hidupnya.
Kedua, jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain. Seorang hamba Tuhan harus mengajarkan yang benar dan memperingatkan hal-hal yang buruk. Tugas seorang pengkhotbah sama seperti seorang ayah dalam sebuah rumah tangga. Sang ayah wajib memberitahu anak-anaknya apa yang baik dan benar, tetapi mengingatkan mereka hal-hal buruk yang tidak bisa dilakukan agar bisa dihindari dan dijauhkan. Akan sangat buruk bagi anak-anaknya jika seorang ayah hanya memberitahukan hal-hal benar saja tanpa memberitahukan hal-hal buruk yang harus dihindari. Oleh karena itu seorang ayah yang baik tidak akan henti-hentinya memberitahu anak-anaknya siapa yang bisa diikuti dan dijadikan sebagai teman, serta siapa yang harus dijauhi karena kelakuan buruk dan kejahatannya. Itulah tugas seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya.
Apakah dalam hal ini sang ayah menjadi seorang ayah yang jahat dan berdosa karena telah menghakimi orang lain dengan memberitahu anak-anaknya siapa orang-orang jahat dan hal-hal buruk yang dilakukan? Bisa dipastikan, semua ayah di dunia ini akan berpikir bahwa ia tidak berdosa dan bersalah serta tidak menghakimi orang lain ketika ia mengajar anak-anaknya. Tindakan itu baik bagi sang ayah dan sangat baik bagi anak-anaknya. Begitu juga dengan para hamba-hamba Tuhan yang menjadi pengkhotbah, pengajar dan gembala sidang dalam sebuah gereja. Adalah tugas mereka mengingatkan jemaatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk, keliru dan kesesatan yang dilakukan orang atau gereja lain, dan mengajarkan apa yang benar. Jika seorang hamba Tuhan tidak melakukan hal itu, ia tidak pantas menjadi hamba Tuhan, gembala sidang, pemimpin, pengajar dan pengkhotbah.
Mari pertimbangkan contoh lain demi memperjelas topik ini. Seandainya seorang jemaat bertanya kepada pendetanya, “apa benar Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan masuk ke sorga?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin sang pendeta tidak berpikir panjang dan dengan mudah bisa menjawab dan berkata, Ya, itu betul. Tetapi ketika dilanjutkan dengan pertanyaan lain, “lalu bagaimana dengan mereka yang tidak percaya pada Yesus, apa mereka tersesat dan akan binasa?” Jika pendeta itu takut dilabel sebagai orang yang menghakimi orang lain, maka ia tidak akan menjawab pertanyaan ini dan memilih diam atau menjawab, “saya tidak tahu.” Kenapa demikian, karena jika ia menjawab “Ya” itu berarti ia sudah menghakimi mereka yang tidak percaya.
Bagaimana dengan doktrin-doktrin lain dalam Alkitab? Pendeta yang mengerti tugas, tanggungjawab dan kewajibannya akan memberitahu jawaban semampunya dari setiap pertanyaan jemaatnya. Ketika harus mengatakan apa yang dimengerti dan dipercayai sebagai kebenaran firman Allah, ia tidak pada posisi menghakimi orang lain meskipun pemberitahuan itu menyinggung ajaran dan kepercayaan gereja lain. Apa yang disampaikannya merupakan kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran. Dia wajib mengajarkan kebenaran yang telah diketahuinya.
MENGHAKIMI DALAM KONTEKS MATIUS 7:1-2
Apa sebenarnya maksud perkataan Yesus ketika berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”? Untuk mengerti maksud pernyataan ini kita perlu melihat konteks ayat ini. Perlu diketahui setiap perkataan itu harus diartikan menurut konteks saat perkataan itu disampaikan pembicara awal. Jangan pernah memberikan arti pada suatu pernyataan keluar dari konteks atau memotong pernyataan itu dari konteksnya. Jika hal ini dilakukan maka tidak akan bisa dimengerti apa maksud perkataan Yesus.
Sebagai contoh, pernahkan mendengar ayat firman Allah yang berbunyi bahwa “Tidak ada Allah?” Ada dua bagian firman Allah yang mencatat pernyataan ini yaitu Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:2. Namun pernyataan itu bisa berarti lain karena pernyataan itu dipotong dari keseluruhan ayat atau perikope atau konteks. Jika diperhatikan kedua ayat tersebut dan dimengerti arty pernyataan itu menurut konteksnya maka artinya akan berbeda. Inilah ayat yang sebenarnya, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1; 53:2). Demikian juga ketika ingin mempelajari ajaran Tuhan Yesus tentang “jangan menghakimi orang lain.” Pernyataan ini jangan dipotong dari konteks dan hanya menekankan pernyataan ini tetapi harus memperhatikan keseluruhan ayat tersebut atau konteks pembicaraan Yesus pada Matius 7:1-5 itu agar tidak memberikan arti lain yang tidak disarankan konteksnya.
Untuk memperjelas topik ini, mungkin akan sangat baik mengutip ayat ini kembali, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2). Jika dicermati dengan seksama kedua ayat ini, sangat jelas bahwa kita diajarkan harus menghakimi tetapi tidak menghakim dengan munafik. Oleh karena itu jika harus menghakimi, jangan dilakukan dengan sembarangan. Ia harus mamastikan dirinya bersih dan tidak munafik dan ia harus menghakimi dalam arti positif dan bukan negatif, jika tidak demikian, “kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan dikurkan kepadamu.” Oleh karena itu, selidikilah setiap pikiran, tindakan dan perkataan agar kita tidak dihakimi. Ini tidak berarti bahwa kita harus sempurna dan tanpa dosa. Jika demikian, tidak ada yang bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya Yesus memberikan suatu ilustrasi memperjelas maksud perkataanNya, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:3-5).
Inti ilustrasi ini mengajarkan bahwa jangan pernah katakan orang lain salah jikalau kamu juga melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang dilakukannya. Itulah sebabnya Yesus memakai kata “munafik” untuk menggambarkan orang-orang sedemikian. Namun jikalau melihat keseluruhan perikope Matius 7:1-5 tersebut, sangat jelas bahwa larangan untuk tidak menghakimi itu hanya berlaku bagi mereka yang munafik. Seseorang yang ingin memberikan penilaian terhadap orang lain, harus terlebih dahulu membersihkan diri atau menyelidiki hati (“mengeluarkan balok dari dalam matanya”) sebelum melakukan penghakiman. Ia harus bersih dan tidak bersalah. Hanya orang yang bersih dan tidak bercacat yang layak menjadi seorang hakim dan memberikan penilaian terhadap orang lain.
Apakah kesimpulan ini memiliki dasar yang kuat? Jawabannya, ya pasti. Jika memang kita tidak bisa menghakimi (memberitahukan kesalahan) orang lain, lalu kenapa Tuhan Yesus menghakimi orang-orang Farisi, Saduki dan Israel lainnya? Bukankah sepatutnya kita meneladani Yesus? Jawabannya adalah karena Yesus tidak munafik. Coba perhatikan kalimat-kalimat yang disampaikan Yesus dalam Matius 23. Yesus mengucapkan delapan kali kata “kutuk” atau “celaka” dalam Alkitab bahasa Indonesia. Perhatikan ayat 13, 14, 15, 23, 25, 27, 29, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” dan ayat 16, “Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta.” Kata “celakahlah” di sini sesungguhnya adalah kata “terkutuk.” Inilah perkataan yang diucapkan Yesus karena Yesus mengetahui bahwa orang-orang tersebut telah melakukan hal-hal yang jahat tetapi Yesus tidak melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Yesus bersih dan tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dituduhkan kepadaNya. Yesus menghakimi karena Yesus tidak munafik dan tidak melakukan hal yang salah. Oleh karena itu orang Kristen dituntut bertindak sedemikian dan memiliki hati yang tidak munafik ketika menghakimi sesuatu atau orang lain.
SIKAP MENGHAKIMI YANG DILAKUKAN PAULUS
Masih ingatkah apa yang terjadi di gereja Antiokhia ketika Petrus ada di sana saat itu? Ada baiknya kejadian itu dikutip di sini, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuakn mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Galatia 2:11-14).
Jika melihat kejadian di atas, sangat jelas bahwa Paulus di sini bertindak memberikan penilaian terhadap sikap Petrus (Kefas) yang tidak benar dimana karena rasa takut terhadap orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem, Petrus yang tadinya bersedia makan bersama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, namun kemudian menjauhkan diri hanya karena takut terhadap mereka. Melihat hal ini, Paulus bertindak dan memarahi Petrus di hadapan semua jemaat karena sikap dan tidakannya yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan Injil. Paulus di sini menghakimi Petrus dan melakukannya karena ia telah memastikan tidak melakukan hal yang sama. Paulus melakukan hal itu bukan karena ia manusia sempurna tetapi sebagai pemimpin, rasul dan orang percaya, ia harus mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Di sinilah peran saling menasihati ada demi kebaikan dan pertumbuhan iman orang percaya.
Tindakan “menghakimi” yang dilakukan Paulus sepertinya tidak merusak hubungan Paulus dan Petrus. Petrus menyadari tindakannya yang salah dan tidak alkitabiah. Petrus mungkin orang yang sangat bersyukur dengan tindakan Paulus. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah” (Amsal 9:9).
Tindakan Paulus memarahi Petrus tentu sangat menyakitkan apalagi hal itu dilakukan di depan jemaat. Namun Paulus bukan ingin membesar-besarkan masalah atau menjelek-jelekkan Petrus sehingga masalah itu harus dibukakan dihadapan orang banyak. Tetapi Paulus bersikap sedemikian karena Petrus itu telah bersikap salah dan fatal serta melakukan hal itu secara terbuka di depan jemaat. Besar kemungkinan prilaku Petrus itu telah menjadi pergunjingan di kalangan jemaat Antiokhia saat itu. Itulah sebabnya Paulus harus menyelesaikan masalah itu secara terbuka agar tidak ada hal-hal yang simpang siur dan tersembunyi. Masalah yang dilakukan di depan umum harus diselesaikan depan umum.
Setelah kejadian ini Petrus tentu mengingat kembali bagaimana Allah telah memakainya sebagai alat Tuhan dalam membukakan jalan keselamatan bagi orang-orang bukan Yahudi untuk pertama kalinya ketika ia berada di Yope di rumah seorang yang bernama Simon. Di rumah itu, Allah mempersiapkannya untuk memasuki rumah orang bukan Yahudi. Dengan pertolongan dan rencana Allah, akhirnya Petrus masuk ke rumah Kornelius (orang bukan Yahudi) di Kaesarea (Kisah 10). Bagaimana mungkin seorang yang dipakai Allah sebagai alatNya untuk menjangkau dan menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi, namun kemudian menjahuinya hanya karena merasa takut terhadap orang-orang Yahudi Yerusalem? Bagaimana mungkin seseorang yang tadinya memiliki keyakinan besar bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi namun kemudian mengabaikannya? Jadi, adalah hal yang wajar ketika Paulus harus memarahi Petrus atas sikap dan tindakannya.
SIKAP MENGHAKIMI DIBUTUHKAN DALAM PENGINJILAN
Ketika melakukan penginjilan, sesungguhnya kita juga telah mengambil sikap menghakimi karena kita berkata “siapa yang tidak percaya pada Yesus akan binasa dan tidak memiliki hidup kekal.” Namun ini merupakan penghakiman yang memiliki arti positif. Dengan kesimpulan ini, Roh Kudus menggerakkan hati orang-orang percaya untuk mempergunakan kesempatan dalam memberitakan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Roh Kudus juga memberikan beban kepada orang-orang tertentu untuk mempersembahkan hidupnya dalam tugas penginjilan. Namun di sisi lain, Tuhan memberikan beban kepadaorang tertentu untuk menyelamatkan mereka yang bingung dan bimbang karena ajaran sesat yang telah menyelinap masuk ke dalam gereja. Beban seperti inilah yang dimiliki Yudas ketika menuliskan surat Yudas.
Ketika ingin menuliskan suratnya, sesungguhnya Yudas ingin menuliskan tentang hal kesalamatan tetapi Roh Kudus mendorongnya untuk menuliskan hal yang beda yaitu tentang perjuangan mempertahankan iman. Yudas berkata, “Saudara-saudara yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihatkan kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3). Yudas terdorong menasihatkan penerima suratnya agar tetap berjuang mempertahankan iman.
“Menasihatikan” merupakan suatu tindakan memberikan arahan dan petunjuk apa yang harus dilakukan, apa yang baik dan apa yang harus dituruti dan apa yang harus dihindari. Dalam konteks surat Yudas di atas, “menasihatkan” yang dimaksud Yudas adalah memberitahukan kepada mereka apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu yaitu adanya pengajar sesat yang menyelinap masuk ke dalam gereja bahkan menjadi bagian dari gereja. Yudas melanjutkannya dalam ayat berikutnya, “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus” (Yudas 4).
Karena pengajar sesat yang menyelusup masuk dalam gereja, Yudas dengan tegas mengingatkan dan menasihatkan penerima suratnya untuk tetap memperjuangkan iman yang telah dimiliki mereka. Bahkan lebih daripada itu, Yudas mengajarkan agar mereka juga menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang sudah terpengaruh pengajaran sesat dan berusaha untuk menyelamatkan mereka seperti merampas mereka dari api. Perhatikan ayat-ayat berikut:
“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa” (Yudas 17-24).
Melihat apa yang disampaikan Yudas dalam ayat-ayat di atas, jelas menunjukkan bahwa Yudas mengambil sikap menghakimi dalam melihat dan menilai apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu. Yudas mengatakan bahwa para pengajara sesat telah menyelinap dalam gereja dan mempengaruhi banyak orang agar menyimpang dari iman. Yudas begitu tegas mengatakan bahwa akan banyak pengajar-pengajar sesat dan pengejek-pengejek menjelang akhir zaman. Oleh karena itu, orang-orang Kristen harus membangun imannya dan bangkit melawan pengajar sesat dengan cara menolong dan menyelamatkan orang-orang yang ada dalam gereja yaitu menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu.
Jika kita dilarang menghakimi, seharusnya Yudas juga tidak bisa memberikan penilaian terhadap keadaan gereja dan orang-orang yang ada di dalamnya serta perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tertentu dalam gereja. Coba bayangkan jika seorang hamba Tuhan tidak diperbolehkan memberikan penilaian atau mengatakan sesuatu itu salah karena rasa takut di label “menghakimi orang lain” maka gereja dan kekristenan akan hancur dan siapapun dalam gereja akan bisa melakukan apa saja yang dirasa baik dan benar. Tetapi karena para hamba Tuhan dipanggil untuk mengajar, menasihati, menegor dan menggembalakan jemaat maka adalah tugas dan tanggungjawab mereka untuk mengarahkan dan mengajar jemaat sesuai dengan apa yang Firman Allah ajarkan. Di sisi lain, mereka juga memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menegur mereka yang sesat, menyimpang dan keliru. Sikap ini harus dilakukan agar bisa menuntun, mengajar dan membimbing mereka yang tersesat agar mereka kembali pada kebenaran. Sikap menghakimi dibutuhkan agar bisa menginjil mereka yang tersesat dan yang tidak mengenal Kristus.

MENGHAKIMI ORANG-ORANG SESAT DAN PELAKU DOSA
Ketika mempelajari firman Allah dengan serius dan teliti, maka bisa menemukan berbagai kejadian dimana Alkitab mencatat para hamba Tuhan menghakimi orang-orang sesat dan pelaku dosa. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di Perjanjian Baru tetapi juga di Perjanjian Lama. Hal ini menunjukkan bahwa “menghakimi” merupakan suatu tugas yang tidak bisa terpisahkan dari komunitas umat Allah.
Dalam Pelayanan Yohanes Pembaptis
Salah satu contoh yang menonjol dalam Perjanjian Baru adalah pelayanan Yohanes Pembaptis. Coba perhatikan perkataan Yohanes Pembaptis ini, “Tetapi waktu ia melihat banyak oran Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:7-8). Yohanes pembaptis tidak merasa takut untuk menyebut orang-orang Farisi dan Saduki sebagai keturunan ular beludak. Ucapan ini disampaikan karena mereka pelaku dosa yang licik dan suka memperdaya orang-orang lemah demi keuntungan sendiri. Yohanes Pembaptis tidak segan-segan mengucapkan perkataan tersebut dihadapan orang-orang Farisi dan Saduki.
Yohanes Pembaptis memiliki keberanian luar biasa dalam menegakkan kebenaran dan menegor orang-orang yang melakukan dosa. Ia tidak memperdulikan status orang dalam memberikan teguran sekalipun ia seorang raja (Yohanes 14:1-12). Keberanian inilah yang tidak dimiliki banyak hamba-hamba Tuhan di masa gereja sekarang ini. Namun sebagai hamba Tuhan, Yohanes hanya memiliki satu tujuan yaitu menyenangkan Tuhannya sama seperti Paulus dalam pelayanannya seperti Paulus katakana, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Galatia 1:10). Menghakimi merupakan bagian dari pelayanan seorang hamba Tuhan.
Dalam ajaran Yesus
Ada suatu perintah yang disampaikan Yesus untuk dilakukan umat Tuhan ketika melihat seorang percaya berbuat dosa. Suatu petunjuk dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani masalah yang sedang terjadi tertuang dalam Matius 18:15-18.
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikan soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 18:15-18).
Perikope di atas mungkikn bukanlah ayat-ayat yang umum dibicarakan gereja dan orang Kristen karena ayat-ayat itu sendiri memberikan suatu prosedur disiplin gereja ketika ada jemaat melakukan dosa. Karena tindakan itu kelihatan seperti membongkar dosa orang dan akhirnya mengucilkan pelaku dosa yang tidak bertobat, disiplin gereja seperti ini sering diabaikan masa sekarang, bahkan banyak gereja tidak memperdulikan prosedur disiplin ini lagi. Berbeda dengan gereja masa dulu dimana semua denominasi menekankan disiplin ini demi kebaikan dan pertobatan pelaku dosa tersebut. Namun masa modern sekarang, gereja mengabaikannya karena dianggap tindakan itu justru mengurangi jumlah keanggotaan gereja. Hal ini terjadi karena orang yang dikenakan disiplin gereja sering meninggalkan gereja asalnya dan bergabung dengan gereja lain. Namun demikian, apapun yang dilakukan gereja sekarang ini tidak berarti apa yang dicatat dalam Alkitab itu tidak benar. Justru sebaliknya, gerejalah yang mengabaikan ajaran firman Allah dan hanya menekankan ajaran tertentu demi keuntungan dan motif gereja tersebut.
Matius 18:15-20 ini sangat penting tetapi sering diabaikan gereja. Namun demikian ketika ajaran ini ditegakkan dalam gereja, itu berarti gereja telah mengambil sikap menghakimi pelaku dosa tersebut. Jika tidak demikian, tak seorangpun yang bisa mengatakan atau menilai orang lain telah melakukan dosa atau menjadi pelaku dosa dan harus menerima disiplin gereja. Jika tidak demikian bagaimana mungkin bisa mengatakan orang lain pelaku dosa atau pengajar sesat jika tidak menghakimi tindakan dan perbuatannya sesuai dengan terang firman Allah.
Menghakimi adalah menentukan sesuatu atau orang itu salah atau benar dalam terang firman Allah. Namun jika mengatakan orang lain salah dan sesat, kita harus memastikan diri tidak munafik atau tidak menghakimi dalam arti negatif, karena jika jika bersikap demikian, kita juga akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Selidikilah diri sendiri di hadapan Allah agar pantas menjadi seorang hakim bagi diri sendiri dan bagi orang lain di sekitarnya dan bagi gereja tempat pelayanan.
Jadi ayat firman Allah yang berbunyi, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” bukan berarti umat percaya tidak bisa menghakimi orang lain, tetapi sebaliknya umat percaya diperintahkan untuk menghakimi dengan benar dan tidak munafik demi kebaikan orang-orang disekitarnya dan gereja. Kesimpulan inilah yang dinyatakan konteks Matius 7:1-5.
Untuk menjawab keraguan atau ketidaktahuan tentang “jangan menghakimi orang lain” kita perlu menyelidiki firman Allah sebagai dasar dan fondasi pengetahuan kita. Kita tidak bisa menerima begitu saja perkataan atau teguran orang lain dengan berkata, “jangan menghakimi orang lain.” Sangat dibutuhkan pembelajaran firman Allah dalam hal ini.
ARTI KATA “MENGHAKIMI”
Pertama-tama, perlu diketahui apa arti kata “menghakimi.” Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisinya sebagai “mengadili” atau “berlaku sebagai hakim.” Lalu apa itu “hakim”? Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memberikan pengertian sebagai, (1) “orang yang mengadili perkara,” (2) “pengadilan” dan (3) “juri”, “penilai.” Namun juga diberikan pengertian lain sebagai “orang pandai, budiman dan ahli; orang yang bijak.”
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa “menghakimi” adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim” dimana berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim maka tak seorangpun yang memiliki wewenang untuk menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang merasa salah. Jika demikian, maka hidup manusia itu akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya masing-masing, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25).
TUGAS SEORANG HAMBA TUHAN
Ada dua penjelasan penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pembahasan ini. Yang pertama, orang Kristen atau gereja takut dilabel sebagai “menghakimi orang lain.” Jika rasa takut ini dibiarkan dengan tanpa memiliki dasar yang benar, akan berdampak buruk pada gereja karena gereja tidak bisa memberitahukan atau menjelaskan mana yang benar dan salah. Jika demikian, siapa yang patut diikuti dan diteladani? Sebagai akibat ketakutan ini akan sangat besar terhadap gereaj karena secara tidak langsung hal ini memberitahukan bahwa gereja tidak perlu memiliki pengajar atau hamba-hamba Tuhan karena tugas utama mereka adalah memberitahukan mana yang benar dan salah melalui pengajaran, khotbah dan penggembalaan jemaat agar mereka mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah. Jika para hamba Tuhan yang mengajar dan berkhotbah dianggap menghakimi ketika mengatakan hal yang benar, lalu siapakah yang pantas jadi pengajar dan pengkhotbah?
Sekedar diketahui tiap-tiap orang di dunia ini akan selalu bertindak sebagai “hakim” dalam hidupnya. Jika seseorang tidak bisa menghakimi atau tidak mampu memberitahukan apa yang benar dan salah maka ia seorang yang plin-plan, dan tidak berpendirian. Ia tidak pantas menjadi seorang pemimpin karena ia tidak bisa mengambil keputusan bijaksana. Orang yang tidak bisa mengambil keputusan atau menentukan suatu keputusan akan susah dalam hidup dan dalam membangun keluarganya karena ia tidak bisa menentukan apa yang terbaik untuk hidupnya.
Kedua, jika seorang hamba Tuhan memberitahukan kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan orang atau gereja lain, pendeta itu tidak pada posisi mengakimi orang (gereja) lain. Seorang hamba Tuhan harus mengajarkan yang benar dan memperingatkan hal-hal yang buruk. Tugas seorang pengkhotbah sama seperti seorang ayah dalam sebuah rumah tangga. Sang ayah wajib memberitahu anak-anaknya apa yang baik dan benar, tetapi mengingatkan mereka hal-hal buruk yang tidak bisa dilakukan agar bisa dihindari dan dijauhkan. Akan sangat buruk bagi anak-anaknya jika seorang ayah hanya memberitahukan hal-hal benar saja tanpa memberitahukan hal-hal buruk yang harus dihindari. Oleh karena itu seorang ayah yang baik tidak akan henti-hentinya memberitahu anak-anaknya siapa yang bisa diikuti dan dijadikan sebagai teman, serta siapa yang harus dijauhi karena kelakuan buruk dan kejahatannya. Itulah tugas seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya.
Apakah dalam hal ini sang ayah menjadi seorang ayah yang jahat dan berdosa karena telah menghakimi orang lain dengan memberitahu anak-anaknya siapa orang-orang jahat dan hal-hal buruk yang dilakukan? Bisa dipastikan, semua ayah di dunia ini akan berpikir bahwa ia tidak berdosa dan bersalah serta tidak menghakimi orang lain ketika ia mengajar anak-anaknya. Tindakan itu baik bagi sang ayah dan sangat baik bagi anak-anaknya. Begitu juga dengan para hamba-hamba Tuhan yang menjadi pengkhotbah, pengajar dan gembala sidang dalam sebuah gereja. Adalah tugas mereka mengingatkan jemaatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk, keliru dan kesesatan yang dilakukan orang atau gereja lain, dan mengajarkan apa yang benar. Jika seorang hamba Tuhan tidak melakukan hal itu, ia tidak pantas menjadi hamba Tuhan, gembala sidang, pemimpin, pengajar dan pengkhotbah.
Mari pertimbangkan contoh lain demi memperjelas topik ini. Seandainya seorang jemaat bertanya kepada pendetanya, “apa benar Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan masuk ke sorga?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin sang pendeta tidak berpikir panjang dan dengan mudah bisa menjawab dan berkata, Ya, itu betul. Tetapi ketika dilanjutkan dengan pertanyaan lain, “lalu bagaimana dengan mereka yang tidak percaya pada Yesus, apa mereka tersesat dan akan binasa?” Jika pendeta itu takut dilabel sebagai orang yang menghakimi orang lain, maka ia tidak akan menjawab pertanyaan ini dan memilih diam atau menjawab, “saya tidak tahu.” Kenapa demikian, karena jika ia menjawab “Ya” itu berarti ia sudah menghakimi mereka yang tidak percaya.
Bagaimana dengan doktrin-doktrin lain dalam Alkitab? Pendeta yang mengerti tugas, tanggungjawab dan kewajibannya akan memberitahu jawaban semampunya dari setiap pertanyaan jemaatnya. Ketika harus mengatakan apa yang dimengerti dan dipercayai sebagai kebenaran firman Allah, ia tidak pada posisi menghakimi orang lain meskipun pemberitahuan itu menyinggung ajaran dan kepercayaan gereja lain. Apa yang disampaikannya merupakan kepercayaan yang diyakini sebagai kebenaran. Dia wajib mengajarkan kebenaran yang telah diketahuinya.
MENGHAKIMI DALAM KONTEKS MATIUS 7:1-2
Apa sebenarnya maksud perkataan Yesus ketika berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”? Untuk mengerti maksud pernyataan ini kita perlu melihat konteks ayat ini. Perlu diketahui setiap perkataan itu harus diartikan menurut konteks saat perkataan itu disampaikan pembicara awal. Jangan pernah memberikan arti pada suatu pernyataan keluar dari konteks atau memotong pernyataan itu dari konteksnya. Jika hal ini dilakukan maka tidak akan bisa dimengerti apa maksud perkataan Yesus.
Sebagai contoh, pernahkan mendengar ayat firman Allah yang berbunyi bahwa “Tidak ada Allah?” Ada dua bagian firman Allah yang mencatat pernyataan ini yaitu Mazmur 14:1 dan Mazmur 53:2. Namun pernyataan itu bisa berarti lain karena pernyataan itu dipotong dari keseluruhan ayat atau perikope atau konteks. Jika diperhatikan kedua ayat tersebut dan dimengerti arty pernyataan itu menurut konteksnya maka artinya akan berbeda. Inilah ayat yang sebenarnya, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1; 53:2). Demikian juga ketika ingin mempelajari ajaran Tuhan Yesus tentang “jangan menghakimi orang lain.” Pernyataan ini jangan dipotong dari konteks dan hanya menekankan pernyataan ini tetapi harus memperhatikan keseluruhan ayat tersebut atau konteks pembicaraan Yesus pada Matius 7:1-5 itu agar tidak memberikan arti lain yang tidak disarankan konteksnya.
Untuk memperjelas topik ini, mungkin akan sangat baik mengutip ayat ini kembali, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2). Jika dicermati dengan seksama kedua ayat ini, sangat jelas bahwa kita diajarkan harus menghakimi tetapi tidak menghakim dengan munafik. Oleh karena itu jika harus menghakimi, jangan dilakukan dengan sembarangan. Ia harus mamastikan dirinya bersih dan tidak munafik dan ia harus menghakimi dalam arti positif dan bukan negatif, jika tidak demikian, “kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan dikurkan kepadamu.” Oleh karena itu, selidikilah setiap pikiran, tindakan dan perkataan agar kita tidak dihakimi. Ini tidak berarti bahwa kita harus sempurna dan tanpa dosa. Jika demikian, tidak ada yang bisa mengambil keputusan. Itulah sebabnya Yesus memberikan suatu ilustrasi memperjelas maksud perkataanNya, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:3-5).
Inti ilustrasi ini mengajarkan bahwa jangan pernah katakan orang lain salah jikalau kamu juga melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari yang dilakukannya. Itulah sebabnya Yesus memakai kata “munafik” untuk menggambarkan orang-orang sedemikian. Namun jikalau melihat keseluruhan perikope Matius 7:1-5 tersebut, sangat jelas bahwa larangan untuk tidak menghakimi itu hanya berlaku bagi mereka yang munafik. Seseorang yang ingin memberikan penilaian terhadap orang lain, harus terlebih dahulu membersihkan diri atau menyelidiki hati (“mengeluarkan balok dari dalam matanya”) sebelum melakukan penghakiman. Ia harus bersih dan tidak bersalah. Hanya orang yang bersih dan tidak bercacat yang layak menjadi seorang hakim dan memberikan penilaian terhadap orang lain.
Apakah kesimpulan ini memiliki dasar yang kuat? Jawabannya, ya pasti. Jika memang kita tidak bisa menghakimi (memberitahukan kesalahan) orang lain, lalu kenapa Tuhan Yesus menghakimi orang-orang Farisi, Saduki dan Israel lainnya? Bukankah sepatutnya kita meneladani Yesus? Jawabannya adalah karena Yesus tidak munafik. Coba perhatikan kalimat-kalimat yang disampaikan Yesus dalam Matius 23. Yesus mengucapkan delapan kali kata “kutuk” atau “celaka” dalam Alkitab bahasa Indonesia. Perhatikan ayat 13, 14, 15, 23, 25, 27, 29, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” dan ayat 16, “Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta.” Kata “celakahlah” di sini sesungguhnya adalah kata “terkutuk.” Inilah perkataan yang diucapkan Yesus karena Yesus mengetahui bahwa orang-orang tersebut telah melakukan hal-hal yang jahat tetapi Yesus tidak melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Yesus bersih dan tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dituduhkan kepadaNya. Yesus menghakimi karena Yesus tidak munafik dan tidak melakukan hal yang salah. Oleh karena itu orang Kristen dituntut bertindak sedemikian dan memiliki hati yang tidak munafik ketika menghakimi sesuatu atau orang lain.
SIKAP MENGHAKIMI YANG DILAKUKAN PAULUS
Masih ingatkah apa yang terjadi di gereja Antiokhia ketika Petrus ada di sana saat itu? Ada baiknya kejadian itu dikutip di sini, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuakn mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Galatia 2:11-14).
Jika melihat kejadian di atas, sangat jelas bahwa Paulus di sini bertindak memberikan penilaian terhadap sikap Petrus (Kefas) yang tidak benar dimana karena rasa takut terhadap orang-orang Yahudi yang datang dari Yerusalem, Petrus yang tadinya bersedia makan bersama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, namun kemudian menjauhkan diri hanya karena takut terhadap mereka. Melihat hal ini, Paulus bertindak dan memarahi Petrus di hadapan semua jemaat karena sikap dan tidakannya yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan Injil. Paulus di sini menghakimi Petrus dan melakukannya karena ia telah memastikan tidak melakukan hal yang sama. Paulus melakukan hal itu bukan karena ia manusia sempurna tetapi sebagai pemimpin, rasul dan orang percaya, ia harus mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Di sinilah peran saling menasihati ada demi kebaikan dan pertumbuhan iman orang percaya.
Tindakan “menghakimi” yang dilakukan Paulus sepertinya tidak merusak hubungan Paulus dan Petrus. Petrus menyadari tindakannya yang salah dan tidak alkitabiah. Petrus mungkin orang yang sangat bersyukur dengan tindakan Paulus. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah” (Amsal 9:9).
Tindakan Paulus memarahi Petrus tentu sangat menyakitkan apalagi hal itu dilakukan di depan jemaat. Namun Paulus bukan ingin membesar-besarkan masalah atau menjelek-jelekkan Petrus sehingga masalah itu harus dibukakan dihadapan orang banyak. Tetapi Paulus bersikap sedemikian karena Petrus itu telah bersikap salah dan fatal serta melakukan hal itu secara terbuka di depan jemaat. Besar kemungkinan prilaku Petrus itu telah menjadi pergunjingan di kalangan jemaat Antiokhia saat itu. Itulah sebabnya Paulus harus menyelesaikan masalah itu secara terbuka agar tidak ada hal-hal yang simpang siur dan tersembunyi. Masalah yang dilakukan di depan umum harus diselesaikan depan umum.
Setelah kejadian ini Petrus tentu mengingat kembali bagaimana Allah telah memakainya sebagai alat Tuhan dalam membukakan jalan keselamatan bagi orang-orang bukan Yahudi untuk pertama kalinya ketika ia berada di Yope di rumah seorang yang bernama Simon. Di rumah itu, Allah mempersiapkannya untuk memasuki rumah orang bukan Yahudi. Dengan pertolongan dan rencana Allah, akhirnya Petrus masuk ke rumah Kornelius (orang bukan Yahudi) di Kaesarea (Kisah 10). Bagaimana mungkin seorang yang dipakai Allah sebagai alatNya untuk menjangkau dan menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi, namun kemudian menjahuinya hanya karena merasa takut terhadap orang-orang Yahudi Yerusalem? Bagaimana mungkin seseorang yang tadinya memiliki keyakinan besar bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi namun kemudian mengabaikannya? Jadi, adalah hal yang wajar ketika Paulus harus memarahi Petrus atas sikap dan tindakannya.
SIKAP MENGHAKIMI DIBUTUHKAN DALAM PENGINJILAN
Ketika melakukan penginjilan, sesungguhnya kita juga telah mengambil sikap menghakimi karena kita berkata “siapa yang tidak percaya pada Yesus akan binasa dan tidak memiliki hidup kekal.” Namun ini merupakan penghakiman yang memiliki arti positif. Dengan kesimpulan ini, Roh Kudus menggerakkan hati orang-orang percaya untuk mempergunakan kesempatan dalam memberitakan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Roh Kudus juga memberikan beban kepada orang-orang tertentu untuk mempersembahkan hidupnya dalam tugas penginjilan. Namun di sisi lain, Tuhan memberikan beban kepadaorang tertentu untuk menyelamatkan mereka yang bingung dan bimbang karena ajaran sesat yang telah menyelinap masuk ke dalam gereja. Beban seperti inilah yang dimiliki Yudas ketika menuliskan surat Yudas.
Ketika ingin menuliskan suratnya, sesungguhnya Yudas ingin menuliskan tentang hal kesalamatan tetapi Roh Kudus mendorongnya untuk menuliskan hal yang beda yaitu tentang perjuangan mempertahankan iman. Yudas berkata, “Saudara-saudara yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihatkan kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3). Yudas terdorong menasihatkan penerima suratnya agar tetap berjuang mempertahankan iman.
“Menasihatikan” merupakan suatu tindakan memberikan arahan dan petunjuk apa yang harus dilakukan, apa yang baik dan apa yang harus dituruti dan apa yang harus dihindari. Dalam konteks surat Yudas di atas, “menasihatkan” yang dimaksud Yudas adalah memberitahukan kepada mereka apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu yaitu adanya pengajar sesat yang menyelinap masuk ke dalam gereja bahkan menjadi bagian dari gereja. Yudas melanjutkannya dalam ayat berikutnya, “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus” (Yudas 4).
Karena pengajar sesat yang menyelusup masuk dalam gereja, Yudas dengan tegas mengingatkan dan menasihatkan penerima suratnya untuk tetap memperjuangkan iman yang telah dimiliki mereka. Bahkan lebih daripada itu, Yudas mengajarkan agar mereka juga menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang sudah terpengaruh pengajaran sesat dan berusaha untuk menyelamatkan mereka seperti merampas mereka dari api. Perhatikan ayat-ayat berikut:
“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa” (Yudas 17-24).
Melihat apa yang disampaikan Yudas dalam ayat-ayat di atas, jelas menunjukkan bahwa Yudas mengambil sikap menghakimi dalam melihat dan menilai apa yang sedang terjadi dalam gereja saat itu. Yudas mengatakan bahwa para pengajara sesat telah menyelinap dalam gereja dan mempengaruhi banyak orang agar menyimpang dari iman. Yudas begitu tegas mengatakan bahwa akan banyak pengajar-pengajar sesat dan pengejek-pengejek menjelang akhir zaman. Oleh karena itu, orang-orang Kristen harus membangun imannya dan bangkit melawan pengajar sesat dengan cara menolong dan menyelamatkan orang-orang yang ada dalam gereja yaitu menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu.
Jika kita dilarang menghakimi, seharusnya Yudas juga tidak bisa memberikan penilaian terhadap keadaan gereja dan orang-orang yang ada di dalamnya serta perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tertentu dalam gereja. Coba bayangkan jika seorang hamba Tuhan tidak diperbolehkan memberikan penilaian atau mengatakan sesuatu itu salah karena rasa takut di label “menghakimi orang lain” maka gereja dan kekristenan akan hancur dan siapapun dalam gereja akan bisa melakukan apa saja yang dirasa baik dan benar. Tetapi karena para hamba Tuhan dipanggil untuk mengajar, menasihati, menegor dan menggembalakan jemaat maka adalah tugas dan tanggungjawab mereka untuk mengarahkan dan mengajar jemaat sesuai dengan apa yang Firman Allah ajarkan. Di sisi lain, mereka juga memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menegur mereka yang sesat, menyimpang dan keliru. Sikap ini harus dilakukan agar bisa menuntun, mengajar dan membimbing mereka yang tersesat agar mereka kembali pada kebenaran. Sikap menghakimi dibutuhkan agar bisa menginjil mereka yang tersesat dan yang tidak mengenal Kristus.
MENGHAKIMI ORANG-ORANG SESAT DAN PELAKU DOSA
Ketika mempelajari firman Allah dengan serius dan teliti, maka bisa menemukan berbagai kejadian dimana Alkitab mencatat para hamba Tuhan menghakimi orang-orang sesat dan pelaku dosa. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di Perjanjian Baru tetapi juga di Perjanjian Lama. Hal ini menunjukkan bahwa “menghakimi” merupakan suatu tugas yang tidak bisa terpisahkan dari komunitas umat Allah.
Dalam Pelayanan Yohanes Pembaptis
Salah satu contoh yang menonjol dalam Perjanjian Baru adalah pelayanan Yohanes Pembaptis. Coba perhatikan perkataan Yohanes Pembaptis ini, “Tetapi waktu ia melihat banyak oran Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:7-8). Yohanes pembaptis tidak merasa takut untuk menyebut orang-orang Farisi dan Saduki sebagai keturunan ular beludak. Ucapan ini disampaikan karena mereka pelaku dosa yang licik dan suka memperdaya orang-orang lemah demi keuntungan sendiri. Yohanes Pembaptis tidak segan-segan mengucapkan perkataan tersebut dihadapan orang-orang Farisi dan Saduki.
Yohanes Pembaptis memiliki keberanian luar biasa dalam menegakkan kebenaran dan menegor orang-orang yang melakukan dosa. Ia tidak memperdulikan status orang dalam memberikan teguran sekalipun ia seorang raja (Yohanes 14:1-12). Keberanian inilah yang tidak dimiliki banyak hamba-hamba Tuhan di masa gereja sekarang ini. Namun sebagai hamba Tuhan, Yohanes hanya memiliki satu tujuan yaitu menyenangkan Tuhannya sama seperti Paulus dalam pelayanannya seperti Paulus katakana, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Galatia 1:10). Menghakimi merupakan bagian dari pelayanan seorang hamba Tuhan.
Dalam ajaran Yesus
Ada suatu perintah yang disampaikan Yesus untuk dilakukan umat Tuhan ketika melihat seorang percaya berbuat dosa. Suatu petunjuk dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani masalah yang sedang terjadi tertuang dalam Matius 18:15-18.
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikan soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 18:15-18).
Perikope di atas mungkikn bukanlah ayat-ayat yang umum dibicarakan gereja dan orang Kristen karena ayat-ayat itu sendiri memberikan suatu prosedur disiplin gereja ketika ada jemaat melakukan dosa. Karena tindakan itu kelihatan seperti membongkar dosa orang dan akhirnya mengucilkan pelaku dosa yang tidak bertobat, disiplin gereja seperti ini sering diabaikan masa sekarang, bahkan banyak gereja tidak memperdulikan prosedur disiplin ini lagi. Berbeda dengan gereja masa dulu dimana semua denominasi menekankan disiplin ini demi kebaikan dan pertobatan pelaku dosa tersebut. Namun masa modern sekarang, gereja mengabaikannya karena dianggap tindakan itu justru mengurangi jumlah keanggotaan gereja. Hal ini terjadi karena orang yang dikenakan disiplin gereja sering meninggalkan gereja asalnya dan bergabung dengan gereja lain. Namun demikian, apapun yang dilakukan gereja sekarang ini tidak berarti apa yang dicatat dalam Alkitab itu tidak benar. Justru sebaliknya, gerejalah yang mengabaikan ajaran firman Allah dan hanya menekankan ajaran tertentu demi keuntungan dan motif gereja tersebut.
Matius 18:15-20 ini sangat penting tetapi sering diabaikan gereja. Namun demikian ketika ajaran ini ditegakkan dalam gereja, itu berarti gereja telah mengambil sikap menghakimi pelaku dosa tersebut. Jika tidak demikian, tak seorangpun yang bisa mengatakan atau menilai orang lain telah melakukan dosa atau menjadi pelaku dosa dan harus menerima disiplin gereja. Jika tidak demikian bagaimana mungkin bisa mengatakan orang lain pelaku dosa atau pengajar sesat jika tidak menghakimi tindakan dan perbuatannya sesuai dengan terang firman Allah.
Menghakimi adalah menentukan sesuatu atau orang itu salah atau benar dalam terang firman Allah. Namun jika mengatakan orang lain salah dan sesat, kita harus memastikan diri tidak munafik atau tidak menghakimi dalam arti negatif, karena jika jika bersikap demikian, kita juga akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Selidikilah diri sendiri di hadapan Allah agar pantas menjadi seorang hakim bagi diri sendiri dan bagi orang lain di sekitarnya dan bagi gereja tempat pelayanan.
Jadi ayat firman Allah yang berbunyi, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” bukan berarti umat percaya tidak bisa menghakimi orang lain, tetapi sebaliknya umat percaya diperintahkan untuk menghakimi dengan benar dan tidak munafik demi kebaikan orang-orang disekitarnya dan gereja. Kesimpulan inilah yang dinyatakan konteks Matius 7:1-5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Komentar dengan Santun